<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nurse87</title>
	<atom:link href="http://nurse87.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nurse87.wordpress.com</link>
	<description>I Want To Be a Profesional Nurse</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 03:32:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nurse87.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/0387e9200eb5f872ef88a55bbfd017a3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Nurse87</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nurse87.wordpress.com/osd.xml" title="Nurse87" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nurse87.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Anak dengan DHF</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/28/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dhf/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/28/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dhf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 01:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/2011/10/28/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dhf/</guid>
		<description><![CDATA[A. KONSEP DASAR MEDIS 1. Definisi Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty (betina). ( Effendy Christantie, 1995 ). Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang terdapat pada anak dewasa dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=95&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	KONSEP DASAR MEDIS<br />
1.	Definisi<br />
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty (betina). ( Effendy Christantie, 1995 ).<br />
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang terdapat pada anak dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. Uji tourniquet akan positif disertai ruam, tanpa ruam dan beberapa atau semua gejala perdarahan. (Hendarwanto, IPD, 1999 )<br />
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina). Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak , serta sering menimbulkan kejadian luar biaa atau wabah. ( Suroso Thomas, FKUI, 2002 )</p>
<p>2.	Anatomi dan fisiologi darah<br />
		Darah adalah medium transport tubuh. Darah terdiri dari komponen cair dan komponen padat. Komponen cair darah disebut plasma, berwarna kekuning-kuningan yang terdiri dari:<br />
a.	Air : terdiri dari 91 – 92 %<br />
b.	Zat padat yang terdiri dari 7 – 9 %. Terdiri dari :<br />
1)	Protein ( albumin, globulin, fibrinogen )<br />
2)	Bahan anorganik ( natrium, kalsium, kalium, fosfor, besi dan iodium )<br />
3)	Bahan organic ( zat-zat nitrogen non protein, urea, asam urat,   kreatinin, xantin, asam amino, fosfolipid, kolesterol, gluksa dll )<br />
Komponen padat darah terdiri dari :<br />
a.	Sel darah merah<br />
		Eritrosit adalah cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 8,6 µm. eritrosit tidak memiliki nucleus. Eritrosit terdiri dari membrane luar, hemoglobin ( ptotein yang mengandung besi ) dan karbon anhidrase ( enzim yang terlibat dalam transport karbndioksida ). Pembentukan eritrosit dirangsang oleh glikoprotein dan eritropoetin dari ginjal. Jumlah eritrosit nrmal yaitu : laki-laki : 4,5 – 5,5 106 / mm3 dan perempuan : 4,1 – 5,1 106 / mm3. funsi eritrosit adalah mengangkut dan melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida. Pada orang dewasa umur eritrosit adalah 120 hari.</p>
<p>b.	Sel darah putih<br />
		  Pertahanan tubuh melawan infeksi adalah peranan utama sel darah putih. Jumlah normalnya adalah 4.000 – 11.000 / mm3. 5 jenis sel darah putih yaitu :<br />
1)	Neutrofil 55 %<br />
2)	Eosinofil 2 %<br />
3)	Basofil 0,5 – 1 %<br />
4)	Monosit 6 %<br />
5)	Limfosit 36 %<br />
c.	Trombosit<br />
		Trombosit bukan merupakan sel melainkan pecahan granular sel, berbentuk piringan dan tidak berinti, berdiameter 1 – 4 mm dan berumur kira-kira 10 hari. Sekitar 30 – 40 % berada dalam limpa sebagai cadangan dan sisanya berada dalam sirkulasi. Trombosit sangat penting peranannya dalam hemostasis dan pembekuan. Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah trombosit kurang dari 100.000 / mm3.<br />
	Fungsi darah secara umum yaitu :<br />
a.	Respirasi yaitu transport oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru<br />
b.	Gizi, transport makanan yang diabsorpsi<br />
c.	Ekskresi, transport sisa metablisme ke ginjal, paru-paru, kulit dan usus untuk dibuang<br />
d.	Mempertahankan keseimbangan asam basa<br />
e.	Mengatur keseimbangan air<br />
f.	Mengatur suhu tubuh<br />
g.	Transport hormon</p>
<p>Gibson, John 2002 : Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi . Jakarta : EGC.</p>
<p>3.	Etiologi<br />
	Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang terdiri dari 4 tipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 (baca : virus dengue tipe 1-4). infeksi oleh satu tipe virus dengue akan memberikan imunitas yang menetap terhadap infeksi virus yang bersangkutan pada masa yang akan datang. Namun, hanya memberikan imunitas yang sementara dan parsial terhadap infeksi virus lainnya. Wabah dengue juga telah dissertai Aedes albopictus, Aedess polinienssiss, Aedess sscuttellariss tetapi vector tersebut kurang efektif dan kurang berperan karena nyamuk-nyamuk tersebut banyak terdapat didaerah perkebunan dan semak-semak, sedangkan Aedes aegypti banyak tinggal di sekitar pemukiman penduduk.<br />
Adapun ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah<br />
a.	Berbadan kecil, warna hitam dan belang-belang<br />
b.	Menggigit pada siang hari, yaitu rentang waktunya antara Pkl 08.00 – 10.00 pagi.<br />
c.	Gemar hidup di tempat yang gelap dan lembab dan di baju-baju yang bergantungan<br />
d.	Badannya mendatar saat hinggap<br />
e.	Jarak terbangnya kurang dari 100 meter<br />
f.	Banyak bertelur di genangan air yang terdapat pada sisa-sisa kaleng bekas, tempat penampungan air, bak mandi, ban bekas dan sebagainya.</p>
<p>4.	Klasifikasi<br />
a.	Derajat I<br />
Demam disertai gejala klinis lain tanpa perdarahan spontan, uji rumpeleede positf dan mudah memar.<br />
b.	Derajat II<br />
Tanda pada derajat I disertai perdarahan spontan pada kulit berupa ptekiae dan ekimosis, epistaksis, muntah darah (hematemesis), melena, perdarahan gusi.<br />
c.	Derajat III<br />
Ditemukan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, gelisah.<br />
d.	Derajat IV<br />
Syok berat dimana nadi tidak teraba, tekanan darah tidak dapat diukur, kulit lembab dan dingin, tubuh berkeringat, kulit membiru. Merupakan manifestasi syok dan seringkali berakhir dengan kematian.</p>
<p>5.	Patofisiologi<br />
	Virus dengue ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti yang mempunyai 4 tipe yaiyu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, dimana keempat jenis ini dapat menyebabkan manifestasi klinis yang bermaca-macam dari asimptomatis sampai fatal. Dengue fever merupakan manifestasi klinis yang ringan, sedang Dengue Haemorrhagic Fever merupakan manifestasi klinis yang berat.<br />
	Setelah virus masuk ke dalam tubuh, maka akan terjadi replikasi virus kemudian akan terjadi viremia yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh , sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot dan sendi, ruam atau bintik merah pada kulit, hiperemi tenggorokan dan pada keadaan yang lebih berat mungkin akan terjadi pembesaran kelenjar getah bening, hepatomegali dan splenomegali.<br />
	Gigitan nyamuk yang pertama mungkin tidak menimbulkan gejala atau dapat juga terjadi dengue fever yaitu reaksi tubuh ringan yang merupakan reaksi yang biasa terlihat pada infeksi oleh virus. Reaksi akan berat jika penderita mengalami infeksi berulang (ke-2) terutama jika oleh virus yang berbeda pada infeksi yang pertama sehingga terjadi reaksi antigen-antibody dan akan menimbulkan kompleks antigen-antibody (kompleks virus-antibody). Keadaan ini dapat menyebabkan beberapa hal yaitu:<br />
a.	Aktivasi system komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoxin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas dindingpembuluh darah dan terjadinya perembesan plasma dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular. Perembesan plasma ini menyebabkan berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi pleura dan renjatan (syok).<br />
b.	Timbulnya agregasi trombosit yang melepakan ADP akan mengalami metamorfosis. Trombosit yang mengalami metamorfosis akan dimusnahkan oleh system retikuloendotel dengan akibat trombositopenia hebat dan perdarahan<br />
c.	Terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) dengan akibat akhir terjadipembekuan intravascular yang meluas. Dalam proses aktivasi ini plasminogen akan menjadi plasmin yang berperan dalam pembentukkan anafhilatoxin dan penghancuran fibrin menjadi fibrin degradation product. Kemudian meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah sehingga terjadinya perembesan plasma dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular<br />
.<br />
6.	Tanda dan gejala<br />
a.	Demam tinggi dan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari<br />
b.	Manifestasi perdarahan : uji rumpeleede positif, ptekiae, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena<br />
c.	Keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, nyeri ulu hati<br />
d.	Nyeri sendi , nyeri kepala, nyeri otot, rasa sakit di daerah belakang bola mata (retro orbita), hepatomegali, splenomegali<br />
e.	Kadang ditemui keluhan batuk pilek dan sakit menelan.</p>
<p>7.	Pemeriksaan diagnostik<br />
a.	Labotatorium<br />
1)	Darah<br />
a)	Trombosit<br />
b)	Hemoglobin<br />
c)	Hematokrit<br />
d)	Elektrolit serum<br />
e)	Pemeriksaan gas darah<br />
2)	Urine<br />
b.	Pemeriksaan radiology<br />
c.	USG</p>
<p>8.	Penatalaksanaan medis<br />
a.	Pemberian minum 1- 2 liter per hari, pemberiaan oralit, jus buah juga baik untuk mengatasi kekurangan volume cairan<br />
b.	Antipiretik<br />
c.	Kompres hangat<br />
d.	Monitor TTV dan tanda-tanda perdarahan<br />
e.	Antibiotic<br />
f.	Diazepam, jika kejang<br />
g.	Pemberian cairan intravena (Ringer Lactat, Nacl 0,9 %, Dextrose 5 %)<br />
h.	Bila hematokrit meningkat beri cairan plasma (Dekstran, albumin 5 %)<br />
i.	Pemberian tranfusi darah<br />
j.	Jika asidosis metabolic beri natrium Bikarbonat</p>
<p>9.	Komplikasi<br />
a.	Syok hipovolemik<br />
b.	Anoksia jaringan<br />
c.	Asidosis metabolic</p>
<p>B.	KONSEP DASAR KEPERAWATAN<br />
1.	Pengkajian<br />
a)	Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan<br />
-	Riwayat demam dengue, dengan minum penurun panas dan istirahat demam tidak dirasakan lagi<br />
-	Lingkungan rumah yang berdempet, banyak air tergenang, pembuangan barang-barang bekas dan kaleng-kaleng bekas sembarangan<br />
-	Riwayat demam kembali dengan tanda-tanda perdarahan (tanda-tanda perdarahan yang khas dari demam berdarah dengue)<br />
b)	Pola nutrisi metabolic<br />
-	Intake menurun karena mual dan muntah<br />
-	Adakah penurunan BB?<br />
-	Adakah kesulitan menelan?<br />
-	Demam tinggi yang tiba-tiba sampai kadang menggigil selama 2-7 hari<br />
c)	Pola eliminasi<br />
-	Konstipasi<br />
-	Diare<br />
-	Tinja berwarna hitam pada perdarahan hebat<br />
-	Produksi urine menurun (kurang dari 1cc/KgBb/jam) pada syok<br />
d)	Pola aktivitas dan latihan<br />
-	Badan lemah, nyeri otot dan sendi<br />
-	Tidak bisa beraktivitas, pegal-pegal seluruh badan<br />
e)	Pola istirahat dan tidur<br />
-	Istirahat dan tidur terganggu karena demam, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, gelisah<br />
f)	Pola persepsi kognitif<br />
-	Apakah yang diketahui klien dan keluarga tentang penyakitnya?<br />
-	Apakah yang diharapkan klien/keluarga terhadap sakitnya<br />
g)	Pola persepsi dan konsep diri<br />
-	Apakah klien merasa puas terhadap keadaan dirinya?<br />
-	Adakah perasaan malu terhadap penyakitnya?<br />
h)	Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress<br />
-	Adanya perasaan cemas, takut terhadap penyakitnya<br />
-	Ingin ditemani orang tua atau orang terdekat saat sakit</p>
<p>i)	Pola reproduksi seksual<br />
-	Pada anak perempuan apakah ada perdarahan pervagina (bukan menstruasi)?<br />
j)	Pola sistem kepercayaan<br />
-	Menyerahkan penyakitnya kepada Tuhan / pasrah<br />
-	Menyalahkan Tuhan kaerna penyakitnya<br />
-	Memanggil pemuka agama untuk mendoakan</p>
<p>2.	Diagnosa Keperawatan<br />
a.	Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue<br />
b.	Risiko tinggi kekurangan volume cairan vascular yang berhubungan dengan pindahnya cairan dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular<br />
c.	Risiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan<br />
d.	Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat<br />
e.	Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik<br />
f.	Kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi, prognosis dan program pengobatan mengenai penyakit DHF yang berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi</p>
<p>3.	Rencana Keperawatan<br />
a.	Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue<br />
Tujuan : hipertermi dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan<br />
Sasaran :<br />
1)	Suhu tubuh normal (36-370 C)<br />
2)	Pasien mengatakan tidak panas lagi<br />
Rencana tindakan :<br />
1)	Observasi TTV : suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan<br />
Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien<br />
2)	Berikan penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh<br />
Rasional : keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyembuhan pasien di rumah sakit<br />
3)	Beri kompres hangat di daerah ketiak dan dahi<br />
Rasional : kompres hangat memberikan efek vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan pengeluaran panas tubuh melalui pori-pori<br />
4)	Anjurkan klien banyak minum ± 1-2 liter / hari<br />
Rasional : peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak<br />
5)	Anjurkan klien untuk istirahat di tempat tidur / tirah baring<br />
Rasional : mencegah terjadinya peningkatan metabolisme tubuh dan membantu proses penyembuhan</p>
<p>6)	Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat<br />
Rasional : pakaian yang tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh<br />
7)	Monitor dan catat intake dan output dan berikan cairan intravena sesuai program medik<br />
Rasional : karena IWL meningkat 10 %setiap peningkatan suhu tubuh 10C, maka peningkatan intake cairan perlu untuk mencegah dehidrasi<br />
8)	Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik<br />
Rasional : antipiretik berfungsi dalam menurunkan suhu tubuh</p>
<p>b.	Risiko tinggi kekurangan volume cairan vascular yang berhubungan dengan pindahnya cairan dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular<br />
Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan<br />
Sasaran :<br />
1)	Klien tidak mengalami kekurangan volume cairan vaskuler yang ditandai dengan TTV stabil dalam batas normal<br />
2)	Produksi urine 1 cc/KgBb/jam<br />
3)	Tidak ada tanda-tanda dehidrasi<br />
Rencana tindakan :<br />
1)	Observasi TTV : suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan<br />
Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien<br />
2)	Kaji tanda dan gejala kurang volume cairan (selaput mukosa kering, rasa haus dan produksi urine menurun)<br />
Rasional : deteksi dini kurang volume cairan<br />
3)	Monitor dan catat cairan yang masuk dan keluar<br />
Rasional : mengetahui keseimbangan cairan yang masuk dan keluar<br />
4)	Beri minum yang cukup dan sesuaikan dengan jumlah cairan infuse<br />
Rasional ; minum cukup untuk menambah volume cairan dan sesuaikan dengan cairan infuse untuk mencegah kelebihan cairan<br />
5)	Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan intravena<br />
Rasional : program cairan intravena sangat penting bagi pasien yang mengalami deficit volume cairan dengan keadaan umum yang jelek karena cairan yang masuk langsung ke pembuluh darah<br />
6)	Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam pemeriksaan trombosit, hematokrit dan hemoglobin<br />
Rasional : mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah</p>
<p>c.	Risiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan<br />
Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan<br />
Sasaran :<br />
1)	TTV stabil dalam batas normal<br />
2)	Hematokrit dalam batas normal ( L : 40-52 %, P : 35-47 % )<br />
3)	Hemoglobin dalam batas normal ( L : 11,5-16,5 g/dL, P : 13-17,5 g/dL )<br />
4)	Trombosit dalam batas normal (150.000-400.000 /mm3 )<br />
5)	Tidak terjadi tanda-tanda syok<br />
Rencana tindakan :<br />
1)	Observasi TTV : suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan<br />
Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien<br />
2)	Monitor tanda-tanda perdarahan<br />
Rasional : perdarahan yang tepat diketahui dapat segera diatasi sehingga pasien tidak sampai ke tahap hipovolemik akibat perdarahan hebat<br />
3)	Observasi perkembangan bintik-bintik merah di kulit, keringat dingin, kulit lembab dan dingin serta tanda-tanda sianosis<br />
Rasional : mengetahui tanda-tanda terjadinya syok sehingga dapat menentukan intervensi secepatnya<br />
4)	Bila terjadi syok hipovolemik, baringkan pasien dalam posisi datar<br />
Rasional : menghindari kondisi yang lebih buruk<br />
5)	Segera puasakan pasien bila terjadi perdarahan saluran pencernaan<br />
Rasional : mengistirahatkan saluran pencernaan untuk sementara selama perdarahan dari saluran cerna<br />
6)	Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan<br />
Rasional : keterlibatan keluarga sangat membantu tim perawatan untuk segera melakukan tindakan yang tepat<br />
7)	Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tranfusi dan cairan parenteral<br />
Rasional : untuk menggantikan volume dan komponen darah yang hilang dan untuk memenuhi keseimbangan cairan tubuh<br />
8)	Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam pemeriksaan trombosit, hematokrit dan hemoglobin<br />
Rasional : mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah</p>
<p>d.	Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat<br />
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan<br />
Sasaran :<br />
1)	Klien mengalami peningkatan selera makan dan mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang disediakan<br />
2)	Mual, ¬muntah hilang<br />
3)	Berat badan dalam batas normal<br />
Rencana tindakan :<br />
1)	Kaji keluhan mual, muntah dan anoreksia yang dialami pasien<br />
Rasional : untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien<br />
2)	Kaji pola makan pasien, catat porsi makan yang dihabiskan setiap hari<br />
Rasional : mengetahui masukan nutrisi pasien<br />
3)	Timbang berat badan pasien setiap hari<br />
Rasional : mengetahui kecukupan nutrisi pasien<br />
4)	Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makan dalam porsi kecil tetapi sering<br />
Rasional : mencegah pengosongan lambung<br />
5)	Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy antiemetik dan vitamin<br />
Rasional : antiemetik untuk mengatasi mual dan muntah, vitamin untuk meningkatkan selera makan dan daya tahan tubuh pasien</p>
<p>e.	Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik<br />
Tujuan : pasien mampu untuk beraktivitas setelah dilakukan tindakan keperawatan</p>
<p>Sasaran :<br />
1)	Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya<br />
2)	Klien dapat mandiri untuk mandi, makan, eliminasi dan berpakaian<br />
Rencana tindakan :<br />
1)	Kaji tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas<br />
Rasional : mengetahui kemampuan pasien dalam beraktivitas<br />
2)	Libatkan keluarga/orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien<br />
Rasional : memberikan dorongan kepada pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari<br />
3)	Anjurkan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien<br />
Rasional : agar klien berpartisipasi dalam perawatan diri<br />
4)	Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari jika pasien belum mampu sendiri<br />
Rasional : bantuan yang tepat perlu dilakukan agar pasien tidak memaksakan diri beraktivitas sementara dirinya belum mampu sehingga kelelahan pasien dapat dihindari</p>
<p>f.	Kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi, prognosis dan program pengobatan mengenai penyakit DHF yang berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi<br />
Tujuan : pengetahuan pasien/ keluarga tentang penyakit DHF bertambah setelah dilakukan tindakan keperawatan<br />
Sasaran :<br />
1)	Pasien/keluarga dapat mengerti mengena pengertian, penyebab, prose terjadinya penyakit, tanda dan gejala, cara pencegahan dan pengobatan dan komplikasi DHF<br />
Rencana tindakan :<br />
1)	Kaji tingkat pengetahuann pasien dan keluarga tentang penyakit DHF<br />
Rasional : memberikan infrmasi kepada pasien / keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit pasien serta kebenaran informasi yang telah didapatkan pasien / keluarga sebelumnya<br />
2)	Kaji latar belakang pendidikan pasien dan keluarga<br />
Rasional : agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan mereka sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan yang direncanakan tercapai<br />
3)	Jelaskan tentang pengertian, sebab, proses penyakit, tanda dan gejala, cara pencegahan dan pengobatan serta komplikasi dengan menggunakan gambar dan leaflet dan dengan kata-kata yang mudah dipahami<br />
Rasional : agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan dengan menggunakan leaflet dan gambar penjelasan yang diberikan dapat dibaca dan dilihat berulang-ulang<br />
4)	Berikan kesempatan kepada pasien / keluarga untuk bertanya sehubungan dengan penyakit yang dihadapinya dan jawab pertanyaannya<br />
Rasional : mengurangi kecemasan dan memotivasi pasien untuk kooperatif selama masa perawatan atau penyembuhan</p>
<p>4.	Evaluasi<br />
a.	Suhu tubuh normal (36-370 C).<br />
b.	Kekurangan volume cairan vascular tidak terjadi dan pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan.<br />
c.	Syok hipovolemik tidak terjadi, pasien tidak mengalami perdarahan yang berlebihan seperti hematemesis, melena, perdarahan gusi, epistaksis dan ptekiae.<br />
d.	Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi<br />
e.	Aktivitas dan latihan pasien dapat dilakukan secara mandiri<br />
f.	pengetahuan pasien / keluarga tentang kondisi, prognosis dan program pengobatan penyakit DHF bertambah</p>
<p>Patoflow<br />
Infeksi virus dengue I<br />
(tidak ada gejala , dengue fever ringan        membaik)</p>
<p>Infeksi virus dengue berulang<br />
(oleh tipe virus dengue yang berbeda dengan infeksi I)</p>
<p>Replikasi virus                                                                                              Kompleks antigen &#8211; antibody</p>
<p>   Viremia<br />
                                                 Aktivasi system                             agregasi      Aktivasi faktor  Hageman<br />
                                                    Komplemen                                trombosit                           (faktor XII)<br />
	 Demam (Dp 1)<br />
	Mual, muntah (Dp 4)      Dikeluarkannya zat                               ADP                           Plasminogen<br />
                                             anafilatoxin                                  dilepaskan                    menjadi plasmin<br />
	Anoreksia (Dp 4)<br />
	Lemah (Dp 5)            Peningkatan permeabilitas                metamorfosis        Penghancuran   fibrin<br />
                                                   Kapiler                                   trombosit                  dan pembentukan<br />
	Nyeri otot                                                                                                                     anafilatoxin<br />
	Nyeri kepala               Perembesan plasma dari                   trombosit di<br />
                                   ruang intra ke ekstravaskular        musnahkan oleh RES              Peningkatan<br />
	Hepatomegali                                                                                                              permeabilitas<br />
	Splenomegali                                                                                                                      kapiler<br />
                                                                                                  Trombositopenia<br />
                                                                                                                                    Perembesan plasma<br />
	Kadang diare                                                                                                            dari ruang intra<br />
    konstipasi,                                                                  Tanda-tanda perdarahan        ke ruang ektra<br />
    sakit menelan,                                                          ringan : ptekiae,perdarahan     vascular (Dp 2)<br />
    batuk,pilek                                                                         gusi, mimisan (Dp 3)               </p>
<p>                                                                                                   Tidak teratasi</p>
<p>                                                                                               Perdarahan hebat<br />
                                                                            ( dapat terjadi di seluruh bagian tubuh)<br />
                                                                         Saluran pencernaan : hematemesis, melena<br />
                                                                                Saluran perkemihan : hematuri (Dp 3)</p>
<p>	Hemokonsentrasi<br />
	Volume plasma berkurang<br />
	Efusi<br />
	Syok</p>
<p>	Anoksia jaringan<br />
	Asidosis metabolic</p>
<p>                                                  Kematian                     </p>
<p>  DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Carpenito, Lynda Jual-Moyet.(2008). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta : EGC.<br />
Effendi, Christantie. 1995. Perawatan Pasien DHF edisi 1. Jakarta : EGC<br />
Ginanjar, Genis. 2008. Demam Berdarah. Yogyakarta : PT Bentang Pustaka<br />
Gibson, John. 2002. Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi 2. Jakarta ; EGC<br />
Mansjoer, Arif et all. 2000. Kapita selekta Kedokteran edisi 3. Jakarta : Media aesculapius<br />
Monica, Ester. 1999. Demam Berdarah Dengue ( Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan    dan Pengendalian. Jakarta : EGC<br />
 Syaifuddin. 2001. Fisiologi Sistem Tubuh Manusia. Jakarta : Widya Medika<br />
Suyono, Slamet. 2001.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi 3. Jakarta ; FKUI  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=95&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/28/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dhf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Ca Mamae</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/26/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-ca-mamae/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/26/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-ca-mamae/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 00:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan Medikal Bedah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/2011/10/26/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-ca-mamae/</guid>
		<description><![CDATA[A. Konsep Dasar Medik 1. Defenisi a. Neoplasma: kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh (dr. Achmad Tjarta, pathologi, 1973). b. Kanker adalah : Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=94&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Konsep Dasar Medik<br />
1.	Defenisi<br />
a.	Neoplasma: kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh (dr. Achmad Tjarta, pathologi, 1973).<br />
b.	Kanker adalah	: Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya penyakit tunggal (Marilynn E. Doenges, Rencana Askep, 1993)<br />
c.	Cancer	: Istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan malignan dalam setiap bagian tubuh. Pertmbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan manusia yang menjadi hospesnya. Sedangkan Carsinoma adalah pertumbuhan kanker pada jaringan epitel. (Sue Hinchliff, kamus Keperawatan, 1997).<br />
d.	Kanker payudara adalah tumor ganas pada payudara atau salah satu payudara (Rosa Mariono, MA, Standart asuha Keperawatan St. Carolus, 2000)</p>
<p>2.	Bermacam-macam bentuk tumor	:<br />
Perbedaan antara tumor ganas dan tumor jinak<br />
Tumor ganas	Tumor jinak<br />
–	Tumor infiltratif. Tumbuk berkembang menyerbuk kedalam jaringan sehat disekitarnya, menyerupai jari-jari kepiting (cancer). Sukar digerakan dari dasarnya.	–	Tumbuh ekspansif.<br />
Mendesak jaringan sehat sekitarnya dan jaringan sehat yang terdesak membentuk simpai/kapsel.<br />
Mudah digerakan dari dasarnya.<br />
–	Residif (kambuh) dengan bedah/therapi sinar dapat kambuh lagi karena ada sel-sel yang tertinggal.	–	Karena bersimpai, maka mudah di keluarkan seluruhnya<br />
–	Terjadi metastase melalui :<br />
pembuluh darah: Hematogen<br />
Pembuluh limfe : limfogen	–	Tidak terjadi metastase<br />
–	Tumbuh cepat<br />
Klinis : Tumor cepat membesar<br />
Mikroskopik :<br />
Mitosis bipolar (normal)<br />
Mitosis (abnormal)<br />
Satu sel dapat menjadi 3 atau 4 anak sel	–	Tumbuh lambat<br />
Klinis : Tidak cepat membesar<br />
Mikroskopik :<br />
Mitosis bipolar (normal)<br />
Satu sel membelah menjdi 2 anak sel.<br />
–	Kehilangan polaritas letak sel yang satu terhadap yang lain tidak teratur lagi.	–	Tidak ditemukan “Loss of polarity”<br />
–	Jika tidak diobati, penderita bisa meninggal.	–	Biasanya tidak mengakibatkan kematian bila tidak terletak pada alat tubuh yang vital.</p>
<p>3.	Tipe-tipe kanker payudara<br />
a.	Paget’s disease adalah<br />
Bentuk kanker yang dalam taraf permulaan manifestasinya sebagai ezema menahun dari puting susu, yang biasanya merah dan menebal. Suatu tumor subareoler bisa teraba. Paget’s disease mempunyai prognosis  lebih baik. Sebenarnya penyakit ini adalah suatu kanker intraduktal yang tumbuh dibagian terminal dari duktus laktiferus. Secara patologik  cicir-cirinya ialah: sel-sel paget (seperti pasir), hipertrofi sel epedermoi, infiltrasi sel-sel bunder di bawah epidermis. Paget’s disease sangat jarang terdapat di negeri kita ini.<br />
b.	Kanker duktus laktiferus<br />
Non infiltrating papillary karsinoma bisa berbentuk dalam tiap duktus laktiferus dari yang terbesar sampai yang sekecil-kecilnya. Kadang-kadang sulit sekali dibedakan dari papilloma.<br />
c.	Comedo carsinoma<br />
Terdiri dari sel-sel kanker non papillry dan intraduktal, seing dengan nekrosis sentral, sehingga pada permukaan potongan terlihat seperti isi kelenjar. Jarang sekali comedo carsinoma terbatas pada saluran saja; biasanya mengadkan infiltrasi ke sekitarnya, menjadi infiltrating comedo carsinoma.<br />
d.	Adenokarsinoma dengan infiltrasi dan fibrosis. Ini aadlah kanker payudara yang lazim ditemukan . 75% dari kanker payudara adalah tipe ini; oleh karena banyak fibrosis, dia umumnya agak besar dan keras. Juga disebut kanker tipe scirrbus; tumor mengadakan infiltrasi ke kulit dan ke dasar, yaitu fascia.<br />
e.	Medullary carsinoma.<br />
Tumor ini biasanya sangat dalam di dalam mamma, biasanya tidak seberapa keras, dan kadang-kadang disertai kista-kista dan mempunyai kapsul. Tumor ini kurang infiltratif  dibanding dengan tipe scirrbus tadi dan metastasis ketiak sangat lama. Maka prognosis tumor ini lebih baik daripada tipe-tipe lain yang disebut diatas.<br />
f.	Kanker dari lobulus.<br />
Ini yang timbul sering sebagai carsinoma in situ dengan lobulus yang membesar. Secara mikroskopik, kelihatan lobulus atau kumpulan lobulus dengan berisi kelompok sel-sel asinus dengan beberapa mitosis. Kalau mengadakan infiltrasi, hmpir tidak dapat dibedakan dari tipe scirrbus.<br />
g.	Mastitis karsinoma<br />
Suatu penyakit yangsangat ganas dan sangat cepat jalannya. Penyakit ini dapat timbul pada waktu menyusui, akan tetapi juga di luar waktu tersebut. Dapat kita ketahui bahwa operasi akan mengakibatkan penyebaran yang sangat cepat dan kematian. Pendapat umum ialah mastitis karsinomatosa dibiopsi dan diradiasi saja dengan atau tanpa hormon.<br />
4.	Klasifiksi kanker menurut type jaringan :<br />
a.	Limfoma		: Kanker dari organ perlawanan infeksi.<br />
b.	Leukemia		: Kanker dari organ pembentukan darah.<br />
c.	Sarkoma		: Kanker dari tulang, otot, jaringan penyambung.<br />
d.	Karsinoma		: Kanker dari sel epitel.</p>
<p>5.	Anatomi dan fisiologi</p>
<p>Payudara pada pria dan wanita adalah sama sampai mencapai tahap pubertas dimana payudara wanita mengalami perkembangan.<br />
Perkembangan payudara dipengaruhi oleh adanya hormon estrogen dan hormon lain, terjadi sekitar usia 10 tahun dan terus berkembang sampai sekitar usia 16 tahun.<br />
Adapun tahap perubahan payudara menurut (Tanner) adalah sebagai berikut :<br />
a.	Tahap	1	: 	Payudara pra pubertas.<br />
b.	Tahap	2	: 	Penonjolan payudara sebagi tanda pertama pubertas wanita.<br />
c.	Tahap	3		: 	Pembesaran lebih lanjut jaringan payudara dan areola.<br />
d.	Tahap	4	:	Puting dan areola membentuk tonjolan kedua di atas jaringan payudara.<br />
e.	Tahap	5	: 	Payudara yang lebih besar dengan kontur tunggal<br />
Payudara pada wanita dewasa terletak diantara iga ke-2 samapi iga ke-6 (vertikal) dan antara sternum sampai linea mid axilaris (secara horizontal). Adapun berat payudara tiap-tiap orang berbeda, pada wanita yang tidak sedang menyusui berat payudara  antara 150-250 gr, sedangkan pada wanita yang sedang menyusui berat payudara dapat mencapai 400-500 gr.<br />
Bentuk payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya yang terdiri atas kulit dan jaringan erektil yang berwarna tua. Puting dilingkari oleh daerah berwarna coklat yang disebut areola. Didekat dasar puing terdapat kelenjar sebaseus, yaitu kelenjar montgomery yang mengeluarkan zat lemak sehingga puting tetap lemas. Puting berlubang antara 15-20 buah yang merupakan saluran dari kelenjar susu.<br />
Struktur dasar payudara terdiri dari jarigan  fibrosa dan lapisan lemak. Jaringan fibrosa akan mengikat lobus-lobus yng dipisahkan oleh jaringan lemak yang ada. Lobus-lobus yang ada berjumlah 12-20 buah. Setiap lobus terdiri atas sekelompok alveolus yang bermuara ke dalam ductus lactiferus (saluran air susu) yang bergabung dengan duktus lainnya sehingga terbentuk saluran yang lebih besar dan berakhir dalam saluran sekretorik. Ketika saluran ini mendekati puting, kanker akan membesar dan membentuk wadah penampungan air susu yang disebut sinus lactiferus, kemudian saluran akan menyempit lagi dan menembus puting sehingga akhirnya bermuara di atas permukaannya.<br />
Jaringan payudara terdapat diatas otot pektoralis mayor dari sternum menuju linea mid clavicularis, masing-masing meluas ke axilla, suatu area jaringan payudara yang disebut tail of spence. Terdapat pula ligamen cooper yang merupakan pita fasia yang menyangga payudara pada dinding dada.<br />
Adapun sekitar 85% jaringan payudara adalah lemak.<br />
Adapun fungsi dari payudara adalah sebagai organ untuk laktasi yang dipengaruhi hormon prolakin dan corticotropin.<br />
Laktasi dapat tejadi karena adanya persepsi subjektif dari ibu dan stimulasi dari isapan oleh bayi. Isapan dapat merangsang pengeluaran oxitosin dari kelenjar pituitary yang terletak dilobus anterior kelenjar hipofisis yang dialirkan melalui aliran darah.</p>
<p>6.	Etiologi</p>
<p>Penyebab pasti tidak diketahui, adapaun fakto-faktor resiko dari kanker mammae antara lain	:<br />
a.	Jenis kelamin.<br />
Wanita lebih sering terkena dibandingkan laki-laki. Di Amerika serikat, kanker payudara berjumlah 30% dari semua kanker invansive pada wanita dan kurang dari 1% dari kanker yang ditemukan pada pria.<br />
b.	Usia<br />
Sebagian besar kanker mammae ditemukan pada wanita berusia 40 tahun keatas, namun lebih banyak ditemukan pada wanita setelah berusia 50 tahun.<br />
c.	Riwayat kanker sebelumnya, terutama kanker payudara atau tumor payudara.<br />
Wanita yang mempunyai tumor payudara yang disertai perubahan epitel proliferatif mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara.<br />
Sedangkan pada wanita mempunyai riwayat kanker mammae beresiko terjadi kanker mammae pada payudara di sebelahnya sebanyak 2 kali-4 kali kemungkinan terkena kanker.<br />
d.	Riwayat keluarga dengan kanker mammae dan genetik.<br />
Resiko meningkat 2 kali- 4 kali. Jika salah satu anggota keluarga dekat kanker. Resiko akan meningkat &gt; 4 kali jika ada 2 orang anggota keluarga dekat yang mengidap kanker.<br />
e.	Riwayat menstruasi<br />
Resiko payudara meningkat pada wanita yang mengalami menarche sebelum usia 12 tahun dan mengalami menopause setelah 50 tahun.<br />
Hal ini dapat dikarenakan total waktu dimana seseorang terekspose estrogen dan progesteron pada payudaranya disertai dengan perkembangan sel dan perubahan jaringan payudara pada setiap siklus ovulasi.<br />
Bilateral Oophorectany (pengangkatan ovarium) diperkirakan dapat memperkecil resiko kanker payudara dibandingkan menopause setelah 50 tahun.<br />
f.	Riwayat reproduksi .<br />
Keaadaan dimana anak pertama lahir setelah ibu berusia 30  tahun dapat menjadi faktor resiko terjadi kanker payudara.<br />
Beberapa studi juga menyebutkan bahwa lamanya ibu memberikan ASI pada anaknya  dapat menurunkan resiko kanker payudara.<br />
Wanita yang tidak mempunyai anak juga beresiko untuk terkena kanker payudara (Nulliparity)<br />
g.	Obesitas dan diit tinggi lemak<br />
Obesitas juga menunjukan peningkatan resiko kanker payudara pada wanita post menopause.<br />
Diperkirakan wanita dengan obesitas mengalami peningkatan sirkulasi estrogen yang dapat mengakibatkan sel kanker mengalami ketergantungan hormon.<br />
Selain itu, obesitas dapat menghambat diagnosa dari penyakit kanker payudara sehingga diagnosa pada wanita dengan obesitas cenderung lebih lambat.<br />
h.	Paparan radiasi<br />
Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah pubertas dan sebelum usia 30 tahun beresiko meningkatkan kemungkinan terkena kanker payudara sampai 2 kali lipat.<br />
Pada saat berusia 10-14 tahun, jaringan-jaringan pada payudara sangat sensitif sehinga efek pengrusakan dari radiasi meningkat.<br />
i.	Penggunaan hormon dari luar tubuh.<br />
Hal ini meliputi penggunaan kontrasepsi oral maupun penggunaan therapi pengganti hormon estrogen. Hal ini turut di pengaruhi oleh usia saat mulai  menggunakan therapi, lama penggunaan dan dosis yang digunakan. Beberapa studi menunjukan bahwa ada peningkatan resiko terhadap kanker payudara saat hormon progestin diberi tambahan hormon estrogen maupun saat seseorang menggunakan therapi  jangkan panjang (lebih dri 5 tahun)<br />
j.	Penggunaan alkohol<br />
Beberapa studi menyebutkan adanya peningkatan resiko terhadap kanker payudara pada orang yang mengkonsumsi alkohol walau hanya 1 kali minum dalam sehari. Hal ini juga dipengaruhi oleh usia seseorang saat mengkonsumsi alkohol, yang dikonsumsi, lamanya orang tersebut mengkonsumsi alkohol maupun tipe alkohol yang dikonsumsi.<br />
Adapun teori yang menyebutkan bahwa alkohol yang dikonsumsi saat premenopause dapat menyebabkan injuri pada jaringan payudara.<br />
Teori lain menyebutkan bahwa metabolisme alkohol dan kadar estrogen dapat menstimulasi pertumbuhan sel kanker.<br />
k.	Faktor lainnya	:<br />
0)	Tingkat ekonomi.<br />
Tingkat ekonomi tinggi dapat dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker.<br />
Sedangkan tingkat ekonomi rendah dapat meningkatkan angka kematian yang disebabkan oleh kanker.<br />
1)	Etnis.<br />
Wanita dengan kulit putih mempunyai resiko tinggi terkena kanker payudara sedangkan wanita kulit hitam resikonya lebih kecil.<br />
2)	Merokok, stress, diagnosa psikiatri, kurang aktivitas, penggunaan protese pada mammae, coffein.<br />
Hal-hal tersebut diatas dapat meningkatkan resiko kanker payudara.<br />
7.	Patofisiologi<br />
Sel tubuh yang normal mengalami degenerasi yang didukung oleh adanya faktor – faktor karsinogenik seperti peningkatan paparan hormon estrogen dalam tubuh (menarche kurang dari 12 tahun, menopause lebih dari 50 tahun, penggunaan therapi estrogen,  penggunaan kontrasepsi oral), zat-za kimia radioaktif maupun adanya riwayat keluarga dengan kanker (genetik).<br />
Sel yang bergenerasi tesebut mengalami perubahan struktur dan fungsinya, dapat menjadi sel yang ganas maupun sel yang jinak (tumor). Sel-selyang ganas tersebutlah yang dinamakan kanker dengan ciri khas bahwa sel tersebut berkembang lebih cepat dibanding sel normal maupun sel abnormal yang jinak. Ciri khas lain dari kanker adalah ia dapat bermetastase melalui aliran darah maupun aliran limfe kejaringan-jaringan lain disekitarnya seperti : paru, hepar, tulang, ovarium bahkan dapat sampai ke otak.<br />
Metastase juga dapat juga terjadi melalui transplantasi langsung maupun rongga permukaan tubuh.  </p>
<p>8.	Perjalanan metastase.</p>
<p>Stadium-stadium kanker	:<br />
a.	Kalsifiksi TNM dari Ca mammae	:<br />
Tumor	:<br />
Tis	Tumor sebelum invasi tanpa infiltrasi intra duktuel atau paget’s disease dari puting susu tanpa tumor.<br />
T1.	Tumor berdiameter 2 cm atau kurang.<br />
T2.	Tumor berdiameter 2-5 cm.<br />
T3.	Tumor berdiameter lebih dari 5 cm.<br />
T4	Tumor dengan infiltrasi kedinding thorax atau kulit.<br />
Nodus limfe regional.<br />
N0.	Tidak teraba kelenjar limfe diketiak.<br />
N1.	Teraba di ketiak homolateral adanya kelenjar limfe yang dapat digerakkan<br />
N2.	Kelenjar limfe homolateral berlekatan satu sama lain atau melekat ke jaringan sekitarnya<br />
N3.	Kelenjar limfe infraklavikular dan supraklavikular homolateral<br />
Metastase / anak sebar.<br />
M0.	Tidak ada metastase jauh.<br />
M1.	Tidak ada metasase ditambah infiltrasi kulit sekitar payudara.<br />
b.	Stadium	O	Tis N0 M0<br />
Carsinoma in situ.<br />
I.	T1 N0	M0.<br />
Tumor kurang dari 2 cm tanpa nodus<br />
II.A.	T0-N1 M0, T1 N1M0, T2 N0M0.<br />
Tumor 0-2 cm dengan nodus atau. Ukuran 2-5 cm tanpa nodus.<br />
II.B.	T2N1M0, T3N0M0<br />
Tumor 2-5 cm dengan nodus atau lebih dari 5 cm tanpa nodus.</p>
<p>III.A.	T0N2M0, T1N2M0, T2N2M0,T3N1M0, T3N2M0<br />
Tumor kurang dari 2 cm dengan nodus limfe yang terfiksasi atau tumor lebih dari 5 cm dengan ndus terfiksasi/tidak tefiksasi.<br />
Stadium IV T&#8230;N&#8230;M1<br />
Semua tumor yang metastase<br />
Perjalanan metastase tumor</p>
<p>9.	Tanda dan gejala</p>
<p>a.	Teraba massa atau  benjolan di mammae, mayoritas ditemukan di kuadran atas terluar dari payudara, sebagian besar terjadi pada payudara sebelah kiri.<br />
b.	Lesi tidak terasa nyeri, terfiksasi dan keras.<br />
c.	Batas benjolan tidak teratur.<br />
d.	Nyeri pada kanker payudara dapat ditemukan pada kasus yang lebih lanjut.<br />
e.	Tampak dimpling atau peau d’orange pada kulit payudara, dimana kulit tampak kerut seperti kulit jeruk.<br />
f.	Retraksi puting susu.<br />
g.	Metastase ke kulit dapat di manifestasikan oleh lesi yang mengalami ulserasi.<br />
h.	Kulit berwarna merah, agak gelap, kadang edema.<br />
i.	Koping : menyangkal.<br />
j.	Pembesaran kelenjar getah bening setempat<br />
10.	Pemeriksaan diagnostik<br />
a.	BSE (Breast Self Examination)<br />
Pemeriksaan payudara sendiri oleh orang yang bersangkutan. Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-5 sampai hari ke-10 menstruasi. Sebaliknya pemeriksaan ini dilakukan setiap bulan setelah berusia 20 tahun.<br />
b.	CBE (Clinical Breast Examination)<br />
Pemeriksaan payudara oleh perawat yang sudah terlatih. Dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk usia 20 tahun sampai 39 tahun dan dilakukan lebih sering bila sudah berusia 40 tahun atau lebih.<br />
c.	Mammographi.<br />
Sebaiknya dilakukan setiap tahun bila sudah berusia 40 tahun atau lebih.<br />
Dengan foto rontgen mammography dapat di temukan adanya benjolan berukuran 1 mm.<br />
d.	Xeromammography<br />
Pemotretan jaringan payudara dengan kontras dan sedikit dosis rendah.<br />
e.	Ultrasound<br />
Perpaduan antara mammography dan ultrasound dapat membedakan cairan yang mengisi massa yang ada.<br />
f.	FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsi)<br />
Dengan cara mengaspirasi jaringan massa dengan menggunakan syringe dan jarum 21-23. Hasil aspirasi diletakan di objek glass dan diperiksa di laboratorium.<br />
g.	Core needle biopsi<br />
Pengambilan jaringan inti dari masa, biasanya digunakan anastesi lokal karena cenderung lebih berdarah dan lebih nyeri daripada FNAB.<br />
Pemeriksaan ini dapat membedakan antara kanker in situ dan kanker invasif.<br />
h.	Pemeriksaan darah : CEA, Ca 15-3 dan Ca 27.29.<br />
Terjadi peningkatan CEA (lebih dari 5) dan peningkatan Ca 15-3, Ca 27. 29.<br />
Kadar Ca 15-3 dan Ca 27.29 tidak akan mengalami peningkatan pada klien yang merokok.</p>
<p>11.	Penatalaksanaan medik<br />
a.	Pembedahan.<br />
1)	Mastectomy radikal yang dimodifikasi<br />
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis mayor.<br />
Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.<br />
2)	Mastectomy total.<br />
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding dada tidak diangkat.<br />
3)	Lumpectomy/tumor<br />
Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat.<br />
Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang berada di sekitar tumor tersebut.<br />
4)	Wide excision/mastektomy parsial.<br />
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan  payudara normal.<br />
5)	Ouadranectomy.<br />
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis mayor.<br />
b.	Radiotherapi<br />
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan therapi tunggal.<br />
Adapun efek samping	: kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.<br />
c.	Chemotherapy<br />
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.<br />
Efek samping	: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah terserang penyakit.<br />
d.	Manipulasi hormonal.<br />
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah bermetastase.<br />
Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga digabung dengan therapi endokrin lainnya.<br />
12.	Komplikasi<br />
a.	Metastase<br />
Terjadi penyebaran sel kanker kejaringan sekitarnya seperti paru-paru, hepar, ovarium, tulang maupun otak.</p>
<p>B.	KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN<br />
1.	Pengkajian<br />
a.	Pola persepsi dan pemiliharaan kesehatan.<br />
1)	Riwayat keluarga dengan kanker.<br />
2)	Terpapar radiasi berlebih.<br />
3)	Riwayat kanker rahim, kanker ovarium, kanker colon.<br />
4)	Penggunaan alkohol.<br />
5)	Rutin melakukan chek up, sarasi.<br />
b.	Pola nutrisi metabolik<br />
1)	Diit tinggi lemak.<br />
2)	Penurunan nafsu makan.<br />
3)	Muntah-muntah.<br />
4)	Penurunan berat badan.<br />
5)	Edema, ascites.<br />
6)	Obesitas.<br />
c.	Pola eliminasi.<br />
1)	Darah pada feses/urine.<br />
2)	Nyeri saat defekasi/berkemih.<br />
3)	Konstipasi/diare.<br />
4)	Distensi abdomen.<br />
d.	Pola aktivitas-latihan.<br />
1)	Kelelahan.<br />
2)	Aktivitas terbatas karena nyeri.<br />
e.	Pola tidur-isirahat.<br />
1)	Gangguan tidur karena nyeri.<br />
f.	Pola persepsi.<br />
1)	Nyeri.<br />
2)	Ketidaktahuan tentang proses penyakit.<br />
3)	Ansietas/ketakutan.<br />
4)	Rasa terbakar, gatas pada tulang.<br />
5)	Pola persepsi-konsep diri.<br />
6)	Malu, tidak percaya diri karena	:<br />
7)	Lesi seperti cacat.<br />
8)	Jaringan peau d’orange pada payudara.<br />
9)	Scan pada post operasi.<br />
10)	Alopesia.<br />
g.	Pola peran-hubungan sesama.<br />
1)	Gangguan dalam melakukan perannya.<br />
2)	Gangguan dalam interaksi sosial.<br />
h.	Pola reproduksi-seksual.<br />
1)	Menarche sebelum 12 tahun.<br />
2)	Menopause setelah 50 tahun.<br />
3)	Therapi hormon.<br />
4)	Anak pertama lahir setelah 30 tahun.<br />
5)	Tidak memiliki anak.<br />
6)	Kontrasepsi oral.<br />
i.	Pola koping-toleransi terhadap stress.<br />
1)	Stress berlebih.<br />
2)	Cara mngatasi stress : minum alkohol, rokok.<br />
3)	Denial terhadap penyakit, putus asa.<br />
4)	Menarik diri.<br />
j.	Pola nilai kepercayaan.<br />
1)	Mempersalahkan Tuhan.<br />
2)	Lebih mendekatkan diri dengan Tuhan.</p>
<p>2.	Diagnosa Keperawatan<br />
a.	Gangguan harga diri b.d. kecacatan bedah, efek samping khemotherapi, ragu mengenai penerimaan orang lain.<br />
b.	Ketakutan b.d. Krisis situasi : Hospitalisasi, ketidak pastian hasil rasa tidak, berdaya, putus asa, kurang pengethuan tentang kanker dan pengobatan.<br />
c.	Nyeri b.d. proses penyakit : destrukrif jaringan saraf, obstruksi jaras saraf, inflamasi.<br />
d.	Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. status hipermetabolik berkenaan dengan kanker, konsekuensi kemnotherapi, radiasi : mual-muntah, anoreksia.<br />
e.	Resiko tinggi terhadap kerusakan integrits kulit/jaringan b.d. efek radiasi dan kemotherapi, penurunan imunologi.<br />
3.	Rencana Keperawatan<br />
a.	Gangguan harga diri b.d. kecacatan bedah, efek samping khemotherapi, ragu mengenai penerimaan orang lain.<br />
HYD	:	Klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh, mengembangkan koping yang efektif, ditandai dengan :<br />
1)	Partisipasi aktif dalam hubungan personal yang tepat.<br />
2)	Penggunaan koping yang tepat<br />
Selama proses perawatan.<br />
Rencana tindakan	Rasional<br />
1.	Dorong klien untuk mengekspresikan perasaanya, khususnya mengenai cara ia  memandang dirinya.<br />
2.	Dorong klien untuk bertanya mengenai masalah yang ia alami, penanganan perawatan yang sesuai.<br />
3.	Kaji ada tidaknya dukungan dari keluarga.<br />
4.	Anjurkan klein untuk mengikuti kelompok dengan penyakit kanker payudara. 		Mengetahui bagaimana individu memandangi dirinya (konsep diri)</p>
<p>	Klien dapat peduli dengan dirirnya.</p>
<p>	Mengetahui apakah dukungan dari keluarga cukup membantu.<br />
	Klien dapat menemukan wadah yang tepat untuk berbagai pengalaman.</p>
<p>b.	Ketakutan b.d. Krisis situasi : Hospitalisasi, ketidak pastian hasil rasa tidak, berdaya, putus asa, kurang pengethuan tentang kanker dan pengobatan<br />
HYD	:	Klien dapat mengurangi ketakutan yang ia alami sesuai dengan mekanisme koping yang tepat dan dapat berpartisipasi aktif dalam program pengobatan yang ditandai dengan :<br />
1)	Dapat mengungkapkan perasaan.<br />
2)	Aktif dalam program pengobatan.<br />
3)	Klien tanpak rileks<br />
Selama proses perawatan.<br />
Rencana Tindakan	Rasional<br />
1.	Kaji ulang tentang pemahaman kelurga-klien tentang kanker.<br />
2.	Ciptakan lingkungan yang nyaman<br />
3.	Dorong klien untuk ungkapkan pikiran-perasaan.<br />
4.	Lakukan kontak sering mungkin dengan klien.<br />
5.	Waspadai gejala interaksi soial buruk, menarik diri, marah, percobaan bunuh diri.<br />
6.	Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam.<br />
7.	Libatkan keluarga, orang terdekat dengan klien : Juga dalam hal mengambil keputusan utama.<br />
8.	Berikan penjelaan ulang mengenai therapi, tujuan, prosedur, efek samping setelah dokter menjelaskan.<br />
9.	Beri support spiritual doa  </p>
<p>        		Memperbaiki konsep yang salah tentang kanker.<br />
	Mengidentifikasi rasa takut.<br />
	Klien dapat mengungkapkan apa saja yang ia rasakan tanpa merasa ditolak.<br />
	Klien tidak merasa ditinggalkan.</p>
<p>	Informasi yang adequat dapat mengurangi kecemasan/ketakutan pada klien.<br />
	Putus asa, perasaan bersalah, stres yang tinggi dengan koping yang tidak efektif dapat mengakibatkan muncul ide untuk bunuh diri.<br />
	Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang solid, klien tidak merasa terisolasi.<br />
	Untuk mengurangi kecemasan.<br />
	Doa dapat memberi ketenangan</p>
<p>1)	Nyeri b.d. proses penyakit : destrukrif jaringan saraf, obstruksi jaras saraf, inflamasi.<br />
HYD	:	Nyeri berkurang atau hilang ditandai dengan :<br />
1)	Keluhan nyeri berkurang-hilang.<br />
2)	Klien tanpak rileks.<br />
Selama proses perawatan.</p>
<p>Rencana tindakan	Rasional<br />
1.	Kaji lokasi, intensitas frekuesi, durasi.</p>
<p>2.	Beri posisi yang nyaman.<br />
3.	Kaji koping yang digunakan klien untuk mengurangi nyeri dan hasilnya.</p>
<p>4.	Anjurkan klien cara mengurangi nyeri dengan :<br />
–	Nafas dalam.<br />
–	Visualisasi, bimbingan imajinatif seperti menghitung jumlah benda yang ada, menghitung dalam hati, dan sebagainya.<br />
5.	Kolaborasi untuk pemberian analgetik		Sebagai data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan intervensi .<br />
	Mengurangi nyeri.<br />
	Mengetahui apa saja yangsudah di coba oleh klien untuk mengurangi  nyeri dan keefektifannya.<br />
	Mengurangi nyeri dengan menurunkan ketegangan pada klien.</p>
<p>	Sebagai obat pengurang rasa sakit.</p>
<p>2)	Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. status hipermetabolik berkenaan dengan kanker, konsekuensi kemnotherapi, radiasi : mual-muntah, anoreksia.<br />
HYD	: Tidak terjadi kekurangan nutrisi yang ditandai dengan	:<br />
1)	Hb	: 12-18 mg/dl.<br />
2)	Tidak terjadi penurunan berat badan yang signifikan.<br />
Selama proses perawat.</p>
<p>Rencana tindakan	Rasional<br />
–	Pantau masukan makanan setiap hari.<br />
–	Ukur tinggi badan, berat badan, lipatan kuli bisep-trisep.<br />
–	Dorong klien untuk makan diit TKTP dengan asupan cairan yang adequat.<br />
–	Sajikan makanan porsi kecil tapi sering.<br />
–	Beri snack sebagai pengganti makan bila klien tidak mau makan.<br />
–	Perhatikan faktor lingkungan: bau, bising.<br />
–	Kaji hasil laboratorium : Hemoglobin, dll.<br />
–	Dorong keluarga untuk membawa makanan yang di sukai, ciptakan suasana makan yang menyenangkan, misal dengan makan bersama		Mengetahui jumlah masakan yang dimakan oleh klien.<br />
	Mengetahui apakah terjadi penurunan berat badan.<br />
	Untuk mengimbangi peningkatan metabolik sel.<br />
	Mengurangi rasa mual.<br />
	Untuk memenuhi asupan yang dibutuhkan walaupun tidak maksimal.<br />
	Lingkungan yang bau dan bising dapat menurunkan nafsu makan.<br />
	Mengetahui apakah klien mengalami penurunan jumlah asupan nutrisi.<br />
	Meningkatkan nafsu makan.<br />
e.	Resiko tinggi terhadap kerusakan integrits kulit/jaringan b.d. efek radiasi dan kemotherapi, penurunan imunologi.<br />
HYD	: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit yang ditandai oleh	:<br />
1)	Membran mukosa utuh.<br />
Rencana tindakan	Rasional<br />
1.	Kaji kondisi kulit :<br />
2.	Warna,suhu, kelenturan, gatal-gatal, turgor kulit.<br />
3.	Perhatikan adanya kerusakan/ perlambatan penyembuhan luka akibat radiasi :<br />
4.	Kulit samak, deskuamasi kering/lembab, ulserasi, ruam alergi, hiperpigmentasi, alopesia.<br />
5.	Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.<br />
6.	Anjurkan klien untuk tidak menggunakan krim kulit, salep, bedak kecuali di izinkan dokter.<br />
7.	Anjurkan klien untuk tidak menghapus tanda/tatto yang ada sebagai identifikasi area radiasi.<br />
8.	Anjurkan mengenakan pakaian yang lembut dan longgar.</p>
<p>9.	Untuk kemotherapi :<br />
10.	Kaji lokasi pemasangan vena : gatal, nyeri tekan, rasa terbakar, ulserasi/nekrose jaringan.<br />
11.	Segera cuci kulit dengan sabun dan air bila agen antineoplastik tercecer pada kulit yang tidak terlindungi.<br />
		Mengetahui kondisi kulit.</p>
<p>	Untuk mengetahui intervensi yang akan dilakukan kemudian.</p>
<p>	Mempertahan kebersihan kulit tanpa mengiritasi kulit.<br />
	Dapat meningkatkan iritasi, reaksi secara nyata.</p>
<p>	Dapat mempengaruhi proses pemberian radiasi.</p>
<p>	Dengan pengobatan, kulit menjadi sensitif sehingga semua iritasi harus dihindari.<br />
	Bila terjadi tanda-tanda tersebut, maka segera lapor dokter untuk menghentikan intervensi medis dari agen antineoplastik.</p>
<p>	Mengencerkan obat untuk menurunkan resiko iritasi kulit (kulit bakar kimia)</p>
<p>Daftar Pustaka<br />
Doengoes, Marilyn, E (2000) Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3, EGC, Jakarta<br />
Pearse evelyn C, 2002, Anatomi Fisiologi untuk Paramedis PT Gramedia Jakarta<br />
Mansjoer Arif  M. ( 2000 ). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Media Aeusculapius.<br />
Robbins Stanley L. ( 1995 ). Buku Ajar Patologi II. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga : EGC.<br />
Sjamsuhidayat R.W. et . al. ( 1998 ). Buku Ajar ILmu Bedah. Edisi Revisi. Jakarta : EGC.<br />
Sabition, David C. ( 1994 ) .Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC.<br />
Tamba Yong Jan. ( 2000 ). Patofisilogi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=94&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/26/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-ca-mamae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASKEP MORBILI/CAMPAK PADA ANAK</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/25/askep-morbilicampak-pada-anak/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/25/askep-morbilicampak-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 05:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/2011/10/25/askep-morbilicampak-pada-anak/</guid>
		<description><![CDATA[1. 1. PENGERTIAN v Disebut juga Morbili. Campak merupakan penyakit yang sangat menular terutama menyerang anak-anak, walaupun pada beberapa kasus juga dapat menyerang orang dewasa. Pada anak-anak dengan keadaan gizi buruk ditemukan kejadian campak dengan komplikasi yang fatal atau berpotensi menyebabkan kematian. v Penyakit Campak adalah penyakit menular akut yang disebabkan virus Campak/ Rubella. Campak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=92&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.	1. PENGERTIAN<br />
v  Disebut juga Morbili. Campak merupakan penyakit yang sangat menular terutama menyerang anak-anak, walaupun pada beberapa kasus juga dapat menyerang orang dewasa. Pada anak-anak dengan keadaan gizi buruk ditemukan kejadian campak dengan komplikasi yang fatal atau berpotensi menyebabkan kematian.<br />
v  Penyakit Campak adalah penyakit menular akut yang disebabkan virus Campak/ Rubella.  Campak adalah penyakit infeksi menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien.<br />
v  Virus ini terdapat dalam darah, air seni, dan cairan pada tenggorokan. Itulah yang membuat campak ditularkan melalui pernapasan, percikan cairan hidung ataupun ludah<br />
1.	2. PENYEBAB<br />
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Rubella, oleh karena itu campak juga sering disebut Demam Rubella. Virus penyebab campak ini biasanya hidup pada daerah tenggorokan dan saluran pernapasan. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung dan saluran pernapasan. Anak yang terinfeksi oleh virus campak dapat menularkan virus ini kepada lingkungannya, terutama orang-orang yang tinggal serumah dengan penderita. Pada saat anak yang terinfeksi bersin atau batuk, virus juga dibatukkan dan terbawa oleh udara. Anak dan orang lain yang belum mendapatkan imunisasi campak, akan mudah sekali terinfeksi jika menghirup udara pernapasan yang mengandung virus. Penularan virus juga dapat terjadi jika anak memegang atau memasukkan tangannya yang terkontaminasi dengan virus ke dalam hidung atau mulut. Biasanya virus dapat ditularkan 4 hari sebelum ruam timbul sampai 4 hari setelah ruam pertama kali timbul.<br />
1.	3. DIAGNOSA<br />
Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda sebagai berikut  :<br />
%        Anamnesis<br />
1. Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi, mendadak), batuk, pilek harus dicurigai atau di diagnosis banding morbili.<br />
2. Mata merah, mukopurulen, menambah kecurigaan.<br />
3. Dapat disertai diare dan muntah.<br />
4. Dapat disertai dengan gejala perdarahan (pada kasus yang berat) : epistaksis, petekie, ekimosis.<br />
5. Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili (1 atau 2 minggu sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi campak.<br />
%  Pemeriksaan fisik<br />
1. Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya demam (biasanya tinggi) dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivitis.<br />
2. Pada umumnya anak tampak lemah.<br />
3. Koplik spot pada hari ke 2-3 panas (akhir stadium kataral).<br />
4. Pada stadium erupsi timbul ruam (rash) yang khas : ruam makulopapular yang munculnya mulai dari belakang telinga, mengikuti pertumbuhan rambut di dahi, muka, dan kemudian seluruh tubuh.<br />
4.    PATOFISIOLOGI</p>
<p>5.    DIAGNOSA BANDING<br />
1. German measles. Pada penyakit ini tidak ada bercak koplik, tetapi ada pembesaran kelenjar di daerah suboksipital, servikal bagian posterior, belakang telinga.<br />
2. Eksantema subitum. Ruam akan muncul bila suhu badan menjadi normal. (Hassan.R. et al, 1985) Rubeola infantum (eksantema subitum) dibedakan dari campak dimana ruam dari roseola infantum tampak ketika demam menghilang. Ruam rubella dan infeksi enterovirus cenderung untuk kurang mencolok daripada ruam campak, sebagaimana tingkat demam dan keparahan penyakit. Walaupun batuk ada pada banyak infeksi ricketsia, ruam biasanya tidak melibatkan muka, yang pada campak khas terlibat. Tidak adanya batuk atau riwayat injeksi serum atau pemberian obat biasanya membantu mengenali penyakit serum atau ruam karena obat. Meningokoksemia dapat disertai dengan ruam yang agak serupa dengan ruam campak, tetapi batuk dan konjungtivitis biasanya tidak ada. Pada meningokoksemia akut ruam khas purpura petekie. Ruam papuler halus difus pada demam skarlet dengan susunan daging angsa di atas dasar eritematosa relatif mudah dibedakan.<br />
6.   KOMPLIKASI<br />
Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Namun komplikasi dapat terjadi karena penurunan kekebalan tubuh sebagai akibat penyakit Campak. Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak :<br />
1. Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah<br />
2. Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit), sehingga penderta<br />
mudah memar dan mudah mengalami perdarahan<br />
3. Ensefalitis (radang otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.<br />
4. Bronkopnemonia (infeksi saluran napas)                      7. Kejang demam (step)<br />
5. Otitis Media (infeksi telinga) `                                      8. Diare<br />
6. Laringitis (infeksi laring)<br />
7.   PENGOBATAN<br />
A. Campak tanpa Penyulit, cukup dengan:<br />
•	Rawat jalan<br />
•	Cukup mengkonsumsi cairan dan kalori<br />
Morbili merupakan suatu penyakit self-limiting, sehingga pengobatannya hanya bersifat symtomatik, yaitu : memperbaiki keadaan umum, antipiretik bila suhu tinggi parasetamol 7,5 – 10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam – ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50 – 100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari. – Antitusif perlu diberikan bila batuknya hebat/mengganggu, narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan. – Mukolitik bila perlu – Vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat.<br />
Antibiotic diberikan bila ada infeksi sekunder. Kortikosteroid dosis tinggi biasanya diberikan kepada penderita morbili yang mengalami ensefalitis, yaitu:<br />
o Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.<br />
o Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu.<br />
B. Campak dengan Penyulit :<br />
- Menyingkirkan komplikasi<br />
- Mengobati komplikasi bila ada<br />
- Merujuk ke rumah sakit bila perlu<br />
8.  PENCEGAHAN<br />
1)  Cara yang paling efektif untuk mencegah anak dari penyakit campak adalah dengan memberikan imunisasi campak. Jika setelah mendapat imunisasi, anak terserang campak, maka perjalanan penyakit akan jauh lebih ringan. Imunisasi campak untuk bayi diberikan pada umur 9 bulan. Bisa pula imunisasi campuran, misalnya MMR (measles-mump-rubella), biasanya diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Disuntikkan pada otot paha atau lengan atas<br />
2)  Selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan anak sebelum makan.<br />
Jika anak belum waktunya menerima imunisasi campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang lain yang sedang demam.<br />
ASUHAN KEPERAWATAN<br />
1. PENGKAJIAN<br />
a. Biodata<br />
o Anak yang sakit.<br />
o Orang tua.<br />
b. Riwayat kesehatan<br />
o Keluhan utama.<br />
o RPS (demam tinggi, anoreksia, malaise, dll).<br />
o Riwayat kesehatan lalu.<br />
o Riwayat kesehatan keluarga.<br />
•	o Riwayat kehamilan (anak yang sakit).<br />
o Riwayat imunisasi (bayi dan anak).<br />
o Riwayat nutrisi.<br />
o Riwayat tumbuh kembang.<br />
c. Pola aktivitas sehari-hari<br />
o Nutrisi / minum : 1) Dirumah                 2) Dirumah sakit<br />
o Tidur / istirahat : 1) Dirumah                 2) Dirumah sakit<br />
o Kebersihan        : 1) Dirumah                 2) Dirumah sakit<br />
o Eliminasi           : 1) Dirumah                 2) Dirumah sakit<br />
d. Keadaan umum : kesadaran, TTV<br />
e. Pemeriksaan fisik<br />
1) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia<br />
2) Kepala : sakit kepala<br />
3) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan<br />
hidung ( pada stad eripsi ).<br />
4) Mulut &amp; bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.<br />
5) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki ( pada stad. Konvalensi ), evitema, panas ( demam ).<br />
6) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum<br />
7) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.<br />
  Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare<br />
9) Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan<br />
e. Pemeriksaan penunjang<br />
Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni.<br />
Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya multinucleated giant sel yang khas.<br />
Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.<br />
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN<br />
a.  Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi/infeksi virus<br />
b. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.<br />
III. INTERVENSI KEPERAWATAN<br />
1)                              Dx I : Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh bd proses  inflamasi/infeksi virus<br />
Tujuan :  setelah dilakukan askep selama 2 jam diharapkan suhu badan pasien berkurang dengan<br />
Kriteria hasil :<br />
•	• Suhu tubuh 36,6 – 37,4 0 C<br />
o	• Bibir lembab<br />
o	• Nadi normal<br />
o	• Kulit tidak terasa panas<br />
o	• Tidak ada gangguan neurologis ( kejang )<br />
Intervensi :<br />
1.	Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu tubuh<br />
Rasional : agar keluarga lebih kooperatif dalam terapi<br />
b. Memberikan kompres dingin / hangat.<br />
Rasional : untuk membantu dalam penurunan suhsu tubuh pada pasien.<br />
c. Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.<br />
Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk   mempertahankan<br />
d. Monitor perubahan suhu tubuh<br />
Rasional : untuk mengetahui dan merencanakan intervensi selanjutnya<br />
b.  Kolaborasi medis untuk pemberian terapi antipiretik.<br />
Rasional : antipiretik bekerja untuk menurunkan adanya kenaikan suhu tubuh.<br />
suhu tubuh agar tetap normal.<br />
2) Dx II : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia<br />
Tujuan : setelah dilakukan askep 2x 24 jam diharapakan pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan dengan<br />
Kriteria Hasil :<br />
•	• BB meningkat<br />
•	• Mual berkurang / hilang<br />
•	• Tidak ada muntah<br />
•	• Pasien menghabiskan makan 1 porsi<br />
•	• Nafsu makan meningkat<br />
•	• Pasien menyebutkan manfaat nutrisi<br />
•	• Pasien mengungkapkan kesediaan mematuhi diit<br />
•	• Tidak ada tanda – tanda malnutrisi<br />
Intervensi :<br />
a. Berikan banyak minum (sari buah-buahan, sirup yang tidak memakai es).<br />
Rasional : untuk mengkompensasi adanya peningkatan suhu tubuh dan merangsang nafsu makan<br />
b. Berikan susu porsi sedikit tetapi sering (susu dibuat encer dan tidak terlalu manis, dan berikan susu tersebut dalam keadaan yang hangat ketika diminum).<br />
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi melalui cairan bernutrisi.<br />
c. Berikan makanan lunak, misalnya bubur yang memakai kuah, sup atau bubur santan memakai gula dengan porsi sedikir tetapi dengan kuantitas yang sering.<br />
Rasional : untuk memudahkan mencerna makanan dan meningkatkan asupan makanan.<br />
d. Berikan nasi TKTP, jika suhu tubuh sudah turun dan nafsu makan mulai membaik.<br />
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh setelah sakit.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
v  Copyright © 2003 gemari.or.id designed by Gemari Online. Campak Alias Morbili Oleh : Harun Riyanto<br />
v  Kategori Info Penyakit . Campak (Measles)<br />
v http://m.okezone.com Jangan Anggap Remeh Campak<br />
v  Coprright @2008 TEMPOinteraktif. Campak<br />
v  Copyright @ indoskripsi. com launcehed at November 2007-200. Morbili Website hosting by Ide Bagus<br />
v  Kapita Selekta kedokteran Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=92&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2011/10/25/askep-morbilicampak-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ANGINA PEKTORIS</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/12/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-angina-pektoris/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/12/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-angina-pektoris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 01:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[A. Konsep Dasar Medis 1) Definisi Angina Pektoris merupakan nyeri dada sementara atau perasaan tertekan ( kontriksi ) didaerah jantung. ( Brenda Walters. 2003 ). Angina Pektoris adalah nyeri dada yang disebabkan oleh tidak adekuatnya aliran oksigen terhadap miokardium. ( Maryllin E. Doengoes. 2002 Hal 73 ). Angina Pektoris merupakan suatu penyakit berbahaya yang timbul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=86&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Konsep Dasar Medis </p>
<p>1)	Definisi<br />
Angina Pektoris merupakan nyeri dada sementara atau perasaan tertekan ( kontriksi ) didaerah jantung. ( Brenda Walters. 2003 ).<br />
Angina Pektoris adalah nyeri dada yang disebabkan oleh tidak adekuatnya aliran oksigen terhadap miokardium. ( Maryllin E. Doengoes. 2002 Hal 73 ).<br />
Angina Pektoris merupakan suatu penyakit berbahaya yang timbul karena penyempitan arteri yang menyalurkan darah ke otot-otot jantung. ( Dr.John F.Knight. 1997 ).<br />
2)	Anatomi fisiologi<br />
Jantung adalah organ berongga, berotot yang terletak di tengah thoraks dan menempati rongga antara kedua paru yang disebut mediastinum. Fungsi jantung adalah memompa darah ke jaringan, mensuplai O2 dan nutrisi sambil mengangkut CO2 dan sampah hasil metabolisme. Terdapat dua pompa jantung yang terletak di sebelah kiri dan kanan, keluaran jantung kanan didistribusikan seluruhnya ke paru-paru melalui arteri. Kerja pompa jantung dijalankan oleh kontraktilitas relaksasi ritmik dinding otot. Kontraksi otot disebut sistolik, kamar jantung menjadi lebih kecil karena darah disemburkan keluar. Relaksasi otot jantung disebut diastolik kamar jantung akan terisi darah sebagai persiapan untuk penyemburan berikutnya.<br />
Jantung terbungkus dalam kantung fibrosa tipis yang disebut perikardium. Lapisan luar disebut pericardium parietalis dan lapisan dalam disebut pericardium viceralis yang langsung melekat pada permukaan jantung. Kedua pericardium dipisahkan oleh sedikit cairan pelumas yang berfungsi mengurangi gesekan selama kontraksi jantung. Jantung terdiri dari tiga lapisan yaitu :<br />
•	Lapisan luar : epikardium.<br />
•	Lapisan tengah : miokardium, merupakan lapisan otot.<br />
•	Lapisan dalam : endokardium.<br />
Impuls jantung dimulai dan berasal dari Nodus Sinatrialis (SA) yang berada di dinding posterior atrium kanan dekat muara vena kava superior. SA Node menghasilkan denyut jantung 60-100 x dalam 1 menit. Kemudian dihantarkan ke AV Node yang berada di atrium kanan dekat muara sinus coronaria. Jalur AV merupakan transmisi impuls atrium dan ventrikel. Penahanan yang terlalu lama atau gagalnya transmisi impuls pada AV Node dikenal sebagai blok jantung. Dari AV, impuls jantung dihantarkan ke berkas his/bundel his yang membelah menjadi cabang kiri dan kanan kemudian di serabut purkinje yang menyebar keseluruhan permukaan dalam ventrikel otot jantung dan akan mengkontraksi jantung. Serabut purkinje juga menghasilkan impuls 20-40 x/menit.</p>
<p>Sirkulasi Peredaran Darah<br />
Darah yang berasal dari vena cava superior dan inferior masuk atrium kanan kemudian ke ventrikel kanan lalu menuju paru-paru melalui arteria pulmonalis. Di paru-paru terjadi difusi CO2 dan O2. Darah yang banyak mengandung O2 keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri melewati katub bikuspidalis ke ventrikel kiri dan akhirnya dipompa ke seluruh tubuh melalui arcus aorta kemudian melewati pembuluh darah, arteriola, kapiler (di sini terjadi difusi nutrisi dan metabolik jaringan), venula, vena kemudian kembali lagi dengan membawa CO2 ke atrium kanan melalui vena cava superior-inferior.<br />
Ventrikel kiri dan kanan sewaktu diastole akan menghisap darah dari atrium kiri dan kanan melalui katub trikuspidalis dan mitral untuk dilewati darah. Setelah pengisian darah penuh di ventrikel akan berkontraksi maka katup bikuspidalis dan mitral tertutup. Keadaan ini disebut sistolik. Tertutupnya katub trikuspidalis dan mitral menghasilkan bunyi jantung I sedangkan tertutupnya katub aorta dan pulmonal menghasilkan bunyi jantung II. Curah jantung (cardiac output) adalah sejumlah darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh tiap menit. Besarnya curah jantung berubah tergantung dari kebutuhan metabolisme tubuh. Curah jantung (CO) sebanding dengan volume sekuncup (SV) kali frekuensi jantung (HR).<br />
CO = SV x HR.<br />
Pengaturan Denyut Jantung<br />
Frekuensi jantung sebagian besar berada di bawah pengaturan system saraf otonom yaitu serabut parasimpatis mempersarafi node SA dan AV, mempengaruhi kecepatan dan frekuensi jantung sedangkan simpatis akan memperkuat denyut jantung.</p>
<p>Pengaturan Volume Sekuncup<br />
Volume sekuncup tergantung dari tiga variabel :<br />
-	Preload yaitu peningkatan volume terakhir yang meningkatkan kekuatan kontraksi pada saat sistolik.<br />
-	Kontraktilitas yaitu kekuatan kontraksi dari jantung.<br />
-	After load yaitu besarnya tegangan yang dihasilkan oleh ventrikel selama fase systole agar mampu membuka katub semilunaris dan memompa darah keluar.<br />
Ruang jantung terdiri atas empat ruang, dua ruang bagian atas disebut atrium, dua ruang di bagian bawah disebut ventrikel. Dinding yang memisahkan ruang kanan dan kiri disebut septum.<br />
-	Atrium kanan<br />
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah, yang juga sebagai pengatur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik ke dalam ventrikel kanan kemudian ke paru-paru. Darah yang berasal dari pembuluh vena masuk atrium kanan melalui vena cava inferior dan superior dan sinus coronarius.<br />
-	Ventrikel kanan<br />
Menghasilkan kontraksi tekanan darah yang cukup untuk memompa darah ke dalam arteri pulmonalis.<br />
-	Atrium kiri<br />
Menerima darah yang sudah dioksigenisasi dari paru-paru melalui vena pulmonalis. Darah mengalir dari atrium kiri ke dalam ventrikel kiri melalui katub mitralis.<br />
-	Ventrikel kiri<br />
Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulasi sistemik dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer, sekat pembatas kedua ventrikel disebut septum interventrikularis. </p>
<p>Katub Jantung<br />
Katub jantung memungkinkan darah mengalir hanya satu arah ke dalam jantung. Ada dua katub yaitu :<br />
-	Atrioventrikularis<br />
Memisahkan antara atrium dan ventrikel. Terdapat dua jenis yaitu katub trikuspidalis dan mitralis/bikuspidalis. Katub trikuspidalis memisahkan atrium kiri dan ventrikel kiri.<br />
-	Semilunaris<br />
	Katub semilunaris terletak di antara tiap ventrikel dan arteri yang bersangkutan. Katub antara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis disebut katub pulmonalis. Katub antara ventrikel kiri dan aorta disebut katub aorta.<br />
3)	Etiologi<br />
-	Penyakit arteri koroner ( CAD ) : gagal jantung konghesif ( CHF ), spasme arteri koroner dipacu oleh latihan, stress, pemajanan terhadap dingin.<br />
-	Perokok dan pengkomsumsi Alkohol.<br />
-	Makanan yang banyak mengandung serat lemak dan gula.<br />
-	Factor genetic ( herediter ).<br />
4)	Patofisiologi<br />
	Denyut jantung sangat penting, karena apabila ada rangsangan pada bagian tubuh. Dengan demikian arus listrik sebagai pembuka jalan akan menimbulkan kontraksi yang mana akan terjadi denyutan jantung. Hal ini berjalan terus dengan irama yang teratur tanpa berhenti, menurut kecepatan yang disebut tadi, pada umumnya 70x/mnt.<br />
	Tetapi jantung selalu pompa, mempunyai 4 ruang sendiri. Yang masing-masing mempunyai peran penting. Karena darah itu dipompakan bukan hanya kepada satu peredaran, melainkan kepada dua peredaran yang sama sekali berbeda.<br />
Yang besar adalah peredararan umum, mengalirkan darah keseluruh bagian tubuh, tetapi setelah tiba diujung perjalanannya  darah itu kembali ke sumber semula, perjalanan ini lebih pendek dan melintasi paru-paru yang melintasi komponen darah itu.<br />
Juantung ada dua yaitu jantung sebelah kiri dan jantung sebelah kanan yang masing-masing mempunyai dua ruang, ruang sebelah atas yang disebut atrium  ( serambi ), dan  bawah ruang sebelah yang disebut ventrikel ( bilik ) masing-masing ruang ini dihubungkan dengan system peredarannya sendiri.satu seri katup yang sederhana namun efisien mengatur perjalanan darah itu sehingga mengalir dengan bebas diantara pembuluh darah, pembuluh yang pada  masing-masing ruangan.<br />
	Darah dikirim ke atrium disebelah kanan  melelui pembuluh-pembuluh utama yang disebut vena ( vene cava ) ini adalah darah yang telah dikumpulkan dari seluruh tubuh pada saat itu, lalu dilimpahkan ke atrium ( serambi )<br />
Pada denyutan jantung yang berikutnya, jantung berkontraksi, lalu darah yang ada di atrium dilimpahkan ke ventrikel. Disebelah kanan ketika katup penghubung itu terbuka. Ketika ventrikel sebelah kanan mengempis, darah besar yan menyalurkan ke jantung<br />
 Tanda dan Gejala<br />
-	Rasa nyeri didada sebelah kiri dan menjalar kebahu, lengan kiri dan punggung<br />
-	Shock ( pusing, lemah, berkeringat, muntah-muntah, pingsan dan pucat )<br />
-	Sesak nafas<br />
-	Denyut jantung tidak teratur.<br />
5)	Test Diagnostik<br />
•	EKG : keadan Istirahat EKG normal pada 25 % pasien angina pectoris<br />
•	Fhoto Thorax : biasanya normal, namun infiltrate mungkin ada menunjukan dekompesasi jantung atau paru-paru<br />
•	Angiografi koroner : cara yang paling akurat, untuk unutk menentukan beratnya penyakit koroner, dilakukan pada penderita angina stabil yang kronik.<br />
•	Test Lab : SGOT, SGPT, LDH, CKMB : tidak ada penyimpangan ( normal )<br />
•	Kadar lipid, trigliserid dan kolesterol : mungkin meningkat<br />
•	Pembedahan bypass modern<br />
•	Treadmill<br />
o	Kontra Indikasi : pada pasien usia lanjut, penderita cacat, penderita denga sakit lama .<br />
o	Indikasi : untuk diagnostic Angina dengan memprovakasi kelaianan iskemia  dan nyeri dada<br />
7)	Penatalaksaan Medik<br />
•	Meningkatkan suplai O¬2 ke miocard<br />
•	Menghilangkan nyeri dada<br />
•	Istirahat<br />
•	Hilangkan atau kurangi emosi<br />
•	Uji latihan beban / treadmill test<br />
•	Pemeriksaan EKG dan rekam jantung<br />
•	Diet :<br />
-	Kendalikan kalori sesuai dengan berat badan yang ideal<br />
-	Diet  meliputi : karbohidrat (terutama yang majemuk ): 50% dari kaloro harian, protein : 20%  dari kalori harian, dan lemak ( kebanyakan nabati ) : 30 % dari kalori harian<br />
-	Hindari makanan asin<br />
8)	Komplikasi<br />
-	Oisritmia / aritmia<br />
-	Miocard infark<br />
-	Syok cardiogenik<br />
-	Dekompensatio cordis<br />
-	Insfisiensi koroner </p>
<p>A.	Konsep Asuhan Keperawatan<br />
1.	Pengkajian<br />
a.	Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan<br />
-	Riwayat hipertensi dan penyakit paru.<br />
-	Riwayat anemia.<br />
-	Riwayat penyakit katub jantung, bedah jantung dan endokarditis.<br />
b.	Pola nutrisi metabolik<br />
-	Mual, muntah, anoreksia.<br />
-	Penambahan berat badan signifikan<br />
-	Edema, asites<br />
-	Makan makanan yang tinggi garam, lemak, gula dan kafein.<br />
-	Penggunaan obat diuretik.<br />
c.	Pola eliminasi<br />
-	Nokturia (berkemih pada malam hari)<br />
-	Penurunan berkemih, urine berwarna gelap<br />
-	Diare, konstipasi.<br />
d.	Pola latihan dan aktivitas<br />
-	Kelelahan terus menerus sepanjang hari.<br />
-	Gelisah<br />
-	Dyspnea<br />
-	Edema pada ekstremitas bawah.<br />
-	Batuk, nyeri dada pada saat aktivitas.<br />
e.	Pola tidur dan istirahat<br />
-	Insomnia<br />
-	Tidur menggunakan 2-3 bantal.<br />
f.	Pola persepsi dan kognitif<br />
-	Cemas<br />
-	Stres yang berhubungan dengan penyakit<br />
-	Kemampuan pasien mengatasi penyebab penyakit.<br />
g.	Pola hubungan dan peran dengan sesama<br />
-	Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.<br />
h.	Pola reproduksi dan seksualitas<br />
-	Penurunan aktivitas seksualitas, penurunan libido dan impoten/ disfungsi orgasme sehubungan dengan kelelahan/beta blocker yang sering membuat penurunan sex.<br />
2.	Diagnosa Keperawatan<br />
a.	Penurunan curah jantung b/d perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi, irama, konduksi dan listrik jantung.<br />
b.	Intoleransi aktivitas b/d penurunan curah jantung.<br />
c.	Gangguan pertukaran gas b/d penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.<br />
d.	Kelebihan volume cairan b/d kegagalan curah jantung, retensi cairan.<br />
e.	Penurunan perfusi jaringan b/d penurunan cardiac output.<br />
f.	Resti kerusakan integritas kulit b/d penurunan perfusi jaringan, tirah baring lama.<br />
g.	Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, aktivitas, diit dan pengobatan b/d kurang informasi.<br />
3.	Perencanaan Keperawatan<br />
DP 1.	Penurunan curah jantung b/d perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi, irama, konduksi dan listrik jantung.<br />
HYD:	Menunjukkan TTV dalam batas normal, tidak terjadi angina, dyspnea, tidak ditemukan gejala gagal jantung.<br />
Intervensi :<br />
1)	Kaji frekuensi dan irama jantung.<br />
R/ 	Biasa terjadi takikardia untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas miokard.<br />
2)	Catat bunyi jantung tambahan.<br />
R/ 	Bunyi tambahan menunjukkan lemahnya kerja jantung.<br />
3)	Pantau nadi perifer, TD<br />
R/ 	Penurunan nadi dan TD menunjukkan penurunan curah jantung.<br />
4)	Kaji kulit terhadap pucat dan cyanosis.<br />
R/ 	Menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder karena tidak adekuatnya curah jantung.<br />
5)	Kaji terhadap penurunan kesadaran.<br />
R/ 	Menunjukkan tidak adekuatnya perfusi serebral.<br />
6)	Pantau dan catat keluaran urine.<br />
R/ 	Ginjal berespon terhadap penurunan curah jantung dengan menahan air dan natrium.<br />
7)	Anjurkan istirahat cukup.<br />
R/ 	Memperbaiki efisiensi kontraktilitas jantung dan menurunnya kebutuhan O2.<br />
8)	Kolaborasi dan dokter untuk pemberian obat (diuretik, vasodilator, captopril, morfin sulfat dan tranquilizer/sedatif).<br />
R/ 	Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.<br />
DP 2.	Intoleransi aktivitas b/d penurunan curah jantung.<br />
HYD:	Klien dapat berinteraksi sesuai tingkat toleransi.<br />
Intervensi :<br />
1)	Observasi TTV sebelum dan sesudah beraktivitas terutama klien yang menggunakan obat vasodilator dan diuretic.<br />
R/ 	Hipotensi orthostatik dapat terjadi karena efek obat (vasodilatasi), perpindahan cairan/pengaruh obat jantung.<br />
2)	Catat respon kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dyspnea, pucat dan berkeringat.<br />
R/ 	Penurunan miokardium untuk menaikkan volume sekuncup selama aktivitas, dapat menurunkan frekuensi jantung dan kebutuhan O2<br />
3)	Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas.<br />
R/ 	Dapat menunjukkan kenaikan dekompensasi jantung terhadap kelebihan aktivitas dengan periode istirahat.<br />
4)	Bantu penuh atau sesuai indikasi dan selingi aktivitas dengan periode istirahat.<br />
R/ 	Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stress miokard.<br />
5)	Kolaborasi untuk program rehabilitasi jantung.<br />
R/ 	Peningkatan aktivitas secara bertahap untuk mengurangi kerja jantung.<br />
DP 3.	Gangguan pertukaran gas b/d penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.<br />
HYD:	Pernapasan klien normal 12-20 x/menit, bunyi nafas normal.<br />
Intervensi :<br />
1)	Beri posisi semifowler/fowler.<br />
R/ 	Meningkatkan ventilasi dan mengurangi aliran balik vena ke jantung dan meningkatkan ekspansi paru.<br />
2)	Jelaskan dan ajarkan klien batuk efektif dan nafas dalam.<br />
R/ 	Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2.<br />
3)	Auskultasi bunyi nafas, catat crackles, frekuensi pernapasan.<br />
R/ 	Menyatakan adanya kongesti paru dan menunjukkan kebutuhan O2, informasi lanjut sebagai evaluasi terhadap respon terapi.<br />
4)	Kolaborasi dalam pemberian terapi O2.<br />
R/ 	Menaikkan saturasi O2 dan mengetahui dyspnea dan fatigue.<br />
5)	Pantau nilai AGD.<br />
R/ 	Monitor O2 dalam darah.<br />
DP 4.	Kelebihan volume cairan b/d kegagalan curah jantung, retensi cairan.<br />
HYD:	Edema berkurang sampai dengan hilang.<br />
Intervensi :<br />
1)	Kaji derajat edema dan ukur lingkar perut setiap hari.<br />
R/ 	Pada gagal jantung, cairan dapat berkumpul di ekstremitas bawah, abdominal.<br />
2)	Pantau intake-output.<br />
R/ 	Memantau balance cairan.<br />
3)	Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler.<br />
R/ 	Posisi terlentang meningkatkan filtrasi ginjal menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis.<br />
4)	Timbang BB bila memungkinkan.<br />
R/ 	Catat perubahan ada atau hilangnya edema sebagai respon terhadap terapi.<br />
5)	Kaji distensi leher dan pembuluh perifer serta adanya edema dengan/tanpa pitting (catat adanya edema tubuh umum).<br />
R/ 	Retensi cairan berlebihan dapat dimanfaatkan dengan pembendungan vena dan pembentukan edema.<br />
6)	Kaji adanya keluhan dyspnea yang ekstrim dan tiba-tiba.<br />
R/ 	Menunjukkan terjadinya komplikasi (edema paru/emboli).</p>
<p>7)	Berikan diit rendah sodium dan natrium serta batasan cairan.<br />
R/ 	Mengurangi retensi cairan.<br />
8)	Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat digitalis, diuretik dan tambahan kalium.<br />
R/ 	Meningkatkan tugas jantung, meningkatkan keluaran urine dan menghambat reabsorpsi natrium.<br />
DP 5.	Penurunan perfusi jaringan b/d penurunan curah jantung.<br />
HYD:	Pasien mengatakan perasaan nyaman atau tidak ada nyeri saat istirahat.<br />
	Nadi perifer teraba dan kuat.<br />
	Keluhan pusing berkurang sampai dengan hilang.<br />
	Warna kulit tidak pucat, suhu tubuh hangat.<br />
Intervensi :<br />
1)	Kaji keluhan pasien (nyeri dada, pusing).<br />
R/ 	Pengkajian yang tepat diperlukan untuk memberikan intervensi yang tepat.<br />
2)	Monitor TTV dan irama jantung setiap 4 jam.<br />
R/ 	Nadi yang cepat dan reguler dapat menyebabkan penurunan curah jantung yang mengakibatkan penurunan perfusi jaringan.<br />
3)	Periksa nadi perifer setiap 4 jam.<br />
R/ 	Nadi perifer teraba dan kuat mengindikasikan aliran arterial yang baik.<br />
4)	Kaji warna kulit, suhu dan tekstur kulit tiap 4 jam, catat dan laporkan bila ada perubahan.<br />
R/ 	Penurunan perfusi jaringan dapat menyebabkan kulit menjadi dingin dan tekstur berubah.<br />
DP 6.	Risti kerusakan integritas kulit b/d penurunan perfusi jaringan, tirah baring lama.<br />
HYD:	Kerusakan kulit tidak terjadi pada daerah edema atau tertekan.<br />
Intervensi :<br />
1)	Kaji adanya tanda edema pada daerah scrotum, tumit dan maleolus.<br />
R/ 	Mengidentifikasi area edema dan rencana tindakan selanjutnya.<br />
2)	Pijat area yang tertekan.<br />
R/ 	Meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan.<br />
3)	Ubah posisi sering di tempat tidur dan bantu latihan rentang gerak aktif pasif (tiap 2-4 jam sekali).<br />
R/ 	Memperbaiki sirkulasi/menurunkan waktu satu area yang mengganggu aliran darah.<br />
4)	Berikan perawatan kulit dan menjaga kelembaban.<br />
R/ 	Terlalu kering atau lambat merusak kulit dan mempercepat kerusakan.<br />
5)	Jaga kebersihan alat tenun dan bebas kerut.<br />
R/ 	Penurunan tekanan pada kulit memperbaiki sirkulasi.<br />
DP 7.	Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan pengobatan b/d kurang informasi.<br />
HYD:	Secara verbal pasien memahami tentang penyakitnya dengan baik, ketentuan diet dan penatalaksanaan pengobatan.<br />
Intervensi :<br />
1)	Diskusikan fungsi jantung normal dan jelaskan tentang fisiologinya.<br />
R/ 	Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan.<br />
2)	Jelaskan tentang program pengobatan dan pentingnya menjalankan diet.<br />
R/ 	Pengertian dalam pengobatan dapat meningkatkan motivasi klien.<br />
3)	Diskusikan tentang pentingnya istirahat.<br />
R/ 	Aktivitas fisik yang berlebihan dapat berlanjut menjadi kelemahan jantung.<br />
4)	Diskusikan dalam pemberian obat dan efek samping obat.<br />
R/ 	Pemahaman kebutuhan terapeutik pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat.<br />
5)	Berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya.<br />
R/ 	Dapat memahami tentang proses perjalanan penyakit.<br />
.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Barbara C. Long, 1989. Medical Surgical  Nursing. St. Louis. CV. Mosby Company.<br />
Brunner and Suddarth. 1999. Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2, Alih bahasa: Monica Ester, Edisi 8, EGC, Jakarta.<br />
Donna D. Ignatavicius, 1991. Medical Surgical Nursing, WB. Saunders Company, Philadelphia.<br />
Joyce M. Black, 1997. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care. Fifth Edition, WB. Saunders Company, Philadelphia.<br />
Lewis, Sharon Mantik, 2000, Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. Missouri: Mosby Inc.<br />
Luckmann and Sorensen’s, 1993. Medical Surgical Nursing A Psychophysiologic Approach. Fourth edition.<br />
Mansjoer, Arif dkk (editor), 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga, Jilid 2. Penerbit FKUI: Jakarta.<br />
Marilynn E. Doengoes, 1993. Nursing Care Plan. Edition 3, Philadelphia: F.A. Davis Company.<br />
Soeparman, Sarwono Waspadji, 1990. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Penerbit FKUI. Jakarta.<br />
Internet www. Googgle.id. com. Angina Pektoris</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=86&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/12/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-angina-pektoris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN MECONIUM ASPIRATION SYNDROME</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-meconium-aspiration-syndrome/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-meconium-aspiration-syndrome/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 11:27:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[By; Ferdynand Felix TL., S.Kep., Ners. DEFINISI Aspirasi dari cairan amnion yang berisi mekonium pada trakhea janin atau bayi baru lahir saat di dalam uterus atau saat bernafas pertamakali. PATOFISIOLOGI Sindroma ini biasanya terjadi pada infant full-term. Mekonium ditemukan pada cairan amnion dari 10% dari keseluruhan neonatus, mengindikasikan beberapa tingkatan aspiksia dalam kandungan. Aspiksia mengakibatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=82&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By; Ferdynand Felix TL., S.Kep., Ners.</p>
<p>DEFINISI<br />
Aspirasi dari cairan amnion yang berisi mekonium pada trakhea janin atau bayi baru lahir saat di dalam uterus atau saat bernafas pertamakali. </p>
<p>PATOFISIOLOGI<br />
Sindroma ini biasanya terjadi  pada infant full-term. Mekonium ditemukan pada cairan amnion dari 10% dari keseluruhan neonatus, mengindikasikan  beberapa tingkatan aspiksia dalam kandungan. Aspiksia mengakibatkan peningkatan peristaltik intestinal karena kurangnya oksigenasi aliran darah membuat relaksasi otot spincter anal sehingga mekonium keluar.  Mekonium tersebut terhisap saat janin dalam kandungan.</p>
<p>Aspirasi mekonium  menyebabkan obstruksi jalan nafas komplit atau partial dan vasospasme pulmonary. Partikel garam dalam mekonium bekerja seperti detergen, mengakibatkan luka bakar kimia pada jaringan paru. Jika kondisi berkelanjutan akan terjadi pneumothoraks, hipertensi pulmonal persisten dan pneumonia karena bakteri.</p>
<p>Dengan intervensi yang adekuat, gangguan ini akan membaik dalam beberapa hari, tetapi angka kematian mencapai 28% dari seluruh kejadian. Prognosis tergantung dari jumlah mekonium yang teraspirasi, derajat infiltrasi paru dan tindakan suctioning yang cukup. Suctioning termasuk aspirasi dari nasofaring selama kelahiran dan juga suctioning langsung pada trachea melalui selang endotracheal setelah kelahiran jika mekonium ditemukan.</p>
<p>Perencanaan berikut difokuskan pada perawatan infant yang mengalami aspirasi mekonium dan yang berresiko mengalami komplikasi pulmonary.</p>
<p>ETIOLOGI DAN FAKTOR PENCETUS<br />
•	Asfiksia fetal<br />
•	Prolonged labour</p>
<p>MANIFESTASI SPESIFIK<br />
•	Noda mekonium saat lahir<br />
•	Takipnea<br />
•	Hipoksia<br />
•	Hipoventilasi</p>
<p>PENANGANAN<br />
•	Suction secara adekuat pada hipopharing saat kelahiran<br />
•	Intubasi dan suction pada trachea<br />
•	Tangani dengan penanganan distress pernafasan<br />
•	Cegah hipoksia dan acidosis</p>
<p>PENGKAJIAN FISIK<br />
Riwayat antenatal ibu<br />
•	Stress intra uterin</p>
<p>Status infant saat lahir<br />
•	Full-term, preterm, atau kecil masa kehamilan<br />
•	Apgar skor dibawah 5<br />
•	Terdapat mekonium pada cairan amnion<br />
•	Suctioning, rescucitasi atau pemberian therapi oksigen</p>
<p>Pulmonarry<br />
•	Disstress pernafasan dengan gasping, takipnea (lebih dari 60 x pernafasan per menit), grunting, retraksi, dan nasal flaring<br />
•	Peningkatan suara nafas dengan crakles, tergantung dari jumlah mekonium dalam paru<br />
•	Cyanosis<br />
•	Barrel chest dengan peningkatan dengan peningkatan diameter antero posterior (AP)</p>
<p>PENGKAJIAN BEHAVIORAL<br />
•	Disminished activity</p>
<p>STUDY DIAGNOSTIK<br />
•	Rontqen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter antero posterior, hiperinflation, flatened diaphragma dan terdapatnya pneumothorax</p>
<p>DATA LABORATORIUM<br />
•	Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau respiratorik dengan penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2</p>
<p>DIAGNOSA KEPERAWATAN<br />
(1)	Resiko tingi insufisiensi pernafasan berhubungan dengan aspirasi mekonium</p>
<p>Tujuan 1. Mencegah dan mengeluarkan mekonium yang teraspirasi pada saat lahir atau setelahnya</p>
<p>Intervensi :<br />
•	Observasi kebutuhan akan suctioning nasofaring saat kepala bayi lahir. Mekonium dalam cairan amnion merupakan indikasi dilakukan suction sebelum bayi baru lahir bernafas<br />
•	Lakukan suction pada trakhea infant dengan selang endotrakheal setelah kelahiran. Prosedur ini dilakukan sebelum menstimulasi infant jika ditemukan mekonium untuk mencegah aspirasi lebih lanjut<br />
•	Lanjutkan suction pada mulut bayi untuk mengeluarkan partikel mekonium yang lebih besar. Infant yang teraspirasi mekonium memerlukan resusitasi, khususnya infant yang mengalami disstress pernafasan<br />
•	Berikan istirahat dan ketenangan pada infant. Menangis atau agitasi dapat meningkatkan tekanan intra thorakal, menyebabkan pneumothorax</p>
<p>Tujuan 2. Identifikasi dan minimalkan kegagalan pernafasan setelah kelahiran</p>
<p>Intervensi :<br />
•	Kaji status respirasi yang mengindikasikan aspirasi mekonium dan memerlukan tindakan segera seperti :<br />
-	Frekuensi, kedalaman dan takipnea ( frekuensi nafas lebih dari 60 x/menit). Peningkatan frekuensi nafas menentukan peningkatan kebutuhan oksigen<br />
-	Grunting. Suara grunting terjadi karena penutupan glottis untuk menghentikan ekshalasi udara dengan desakan udara ke pita suara<br />
-	Nasal flaring.<br />
-	Retraksi dengan penggunaan otot bantu nafas. Retraksi mengindikasikan distensi paru yang tidak adekuat selama inspirasi<br />
-	Cyanosis. Cyanosis terjadi karena penurunan kadar oksigen dalam tubuh.<br />
-	Analisa gas darah menunjukkan peningkatan PCO2 dan penurunan PO2. Nilai tersebut mengindikasikan adanya acidosis<br />
-	Hasil serial ronqen dada. Dapat mengindikasikan atelektasis, hiperinflasi atau pneumothoraks<br />
•	Berikan therapi oksigen dan ventilasi mekanik dengan tekanan positif. Ventilasi mekanik kadang diperlukan kadang tidak. Tekanan positif diberikan setelah therapy bronkoskopi atau laringotrakheal untuk mencegah masuknya mekonium ke jalan nafas yang lebih kecil.<br />
•	Set ventilator mekanik untuk memberikan tekanan yang lebih tinggi dengan frekuensi nafas pendek (60 – 70 x /menit. Setting ini diperlukan untuk memberikan ventilasi alveoli bagian distal pada infant dengan aspirasi mekonium berat<br />
•	Pertahankan hiperoksigenasi dan nilai pH/AGD pada 7,45 – 7,55 dengan PCO2 22 – 30 mmHg. Hiperoksigenasi mencegah sirkulasi fetal persisten. Keadaan alkalosis respiratorik membentu menurunkan  vasokontriksi paru pada infant dengan aspirasi mekonium.<br />
•	Berikan fisiotherapi dengan perkusi dan vibrasi setiap 1 – 2 jam. Gunakan percussor atau vibrator jika infant dapat mentoleransi treatment. Prosedur ini membantu mengeluarkan sekresi tapi prosedur ini dilakukan tergantung pada kondisi infant<br />
•	Cegah komplikasi infeksi (pneumonitis) dengan pemberian antibiotik IV sesuai pesanan (seperti ampicillin). Antibiotik menghancurkan bakteri dengan memecah dinding sel bakteri sehingga sel bakteri mati.<br />
•	Berikan aminoglycosides sesuai pesanan seperti kanamisin. Monitor kadar serum bayi. Aminoglycosides menghancurkan bakteri dengan menghambat sintesis protein  sehingga sel bakteri mati. Berikan secara pelahan untuk mencegah toksisitas ginjal. Memonitor level serum memaksimalkan efeltifitas therapi obat.<br />
•	Jika dipesankan, berikan steroid untuk menurunkan respon inflamasi mekonium. Walaupun obat hidrokortison merupakan pilihan tetapi penggunaannya masih diperdebatkan.<br />
•	Siapkan infant untuk pembedahan dan pemasangan Extracorporeal Membrane Oksigenation (ECMO) Pump jika infant mengalami kerusakan fungsi paru yang berat. CCMD mempertahankan pertukaran dan perfusi gas. Pembedahan dilakukan untuk menanam dua tube kecil di leher dan menghubungkannnya dengan mesin ECMO yang memompakan darah melalui paru artificial. Prosedur ini memepertahankan infant tetap hidup sampai paru dapat didukung dengan ventilasi mekanik. Jika ECMO digunakan :<br />
-	Kaji intake dan output cairan infant. Mempertahankan keseimbangan cairan penting untuk mencegah overload cairan.<br />
-	Monitor PO2 atau nilai oksimetri. Nilai tersebut untuk mengevalusi oksigenasi jaringan<br />
-	Kaji status neurologik infant. Tanda neurologik menunjukkan perubahan status oksigenasi<br />
-	Suction saluran endotrakheal sesuai pesanan. Suctioning mempertahankan patensi jalan nafas dan membantu treatment.</p>
<p>Koping keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan kecemasan, rasa bersalah dan kemungkinan perawatan jangka panjang</p>
<p>Tujuan : Meminimalkan kecemasan, rasa bersalah dan memberikan dukungan selama krisis situasi.</p>
<p>Intervensi :<br />
•	Kaji ekpressi verbal dan non verbal, perasaan dan penggunaan koping mekanisme. Data tersebut diperlukan untuk membantu perawat untuk membangun koping yang konstruktif pada keluarga<br />
•	Anjurkan orangtua mengungkapkan perasaannya tentang keadaan sakit anaknya, perawatan yang lama, dan prosedur yang dilakukan pada anaknya. Verbalisasi membantu mempertahankan rasa percaya, menurunkan tingkat kecemasan orangtua dan meningkatkan keterlibatan orangtua<br />
•	Berikan informasi yang konsisten dan akurat tetang kondisi dan perkembangan bayinya, perawatan di masa yang akan datang, dan potensial problem pernafasan. Informasi akan menurunkan kecemasan terhadap keadaan bayinya.<br />
•	Anjurkan keluarga berkunjung, ikut memberikan perawatan bila mungkin. Kunjungan, komunikasi dan partisipasi pada perawatan infant membantu proses bounding<br />
•	Informasikan kepada orangtua tentang kebutuhan setelah pulang dan intruksikan prosedur yang penting saat di rumah. Beberapa infant membutuhkan bantuan ventilator setelah pulang ke rumah.<br />
•	Rujuk orangtua pada perawat komunitas dan informasikan tentang fasilitas kesehatan yang bisa dihubungi. Rujukan memberikan support kepada keluarga untuk terus mengontrol keadaan bayinya.</p>
<p>b)	DIAGNOSA KEPERAWATAN LAIN YANG MUNGKIN<br />
•	Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan kalori.<br />
•	Kecemasan orangtua berhubungan dengan kemungkinan kematian pada infant, respon terhadap perawatan yang lama, dan pemberian bantuan ventilator di rumah<br />
•	Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan IWL dari peningkatan pernafasan<br />
•	Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pneumonia sebagai akibat mekonium pada paru<br />
•	Resiko tinggi injury berhubungan dengan komplikasi pneumothoraks, atelektasis<br />
•	Kegagalan pertukaran gas berhubungan dengan pneumonitis chemical dan kegagalan fungsi paru akibat aspirasi mekonium<br />
•	Inefektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan aspirasi mekonium<br />
•	Deficit pengetahuan orangtua berhubungan dengan perawatan jangka panjang setelah kepulangan.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Melson, Kathryn A. &amp; Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Palnning, Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse, 1994<br />
Wong, Donna L., Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby Year Book Inc, Missouri 1996.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=82&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-meconium-aspiration-syndrome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN ANAK “MARASMIK-KWASHIORKOR”</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-%e2%80%9cmarasmik-kwashiorkor%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-%e2%80%9cmarasmik-kwashiorkor%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 11:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[By; Ferdynandus Felix TL., S.Kep., Ners. Pendahuluan Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=79&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By; Ferdynandus Felix TL., S.Kep., Ners.<br />
Pendahuluan<br />
		Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit), dibantu dengan pemeriksaan laboratorium (Ngastiyah, 1997).</p>
<p>Klasifikasi</p>
<p>Untuk kepentingan praktis di klinik maupun di lapangan klasifikasi MEP ditetapkan dengan patokan perbandingan berat badan terhadap umur anak sebagai berikut:<br />
1) Berat badan 60-80% standar tanpa edema	: gizi kurang (MEP ringan)<br />
2) Berat badan 60-80% standar dengan edema	: kwashiorkor (MEP berat)<br />
3) Berat badan &lt;60% standar tanpa edema	: marasmus (MEP berat)<br />
4) Berat badan &lt;60% standar dengan edema	: marasmik kwashiorkor (MEP berat)<br />
(Ngastiyah, 1997)<br />
Kwashiorkor adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi protein. Penyakit kwashiorkor pada umumnya terjadi pada anak dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah karena tidak mampu menyediakan makanan yang cukup mengandung protein hewani seperti daging, telur, hati, susu dan sebagainya. Makanan sumber protein sebenarnya dapat dipenuhi dari protein nabati dalam kacang-kacangan tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua, anak dapat menderita defisiensi protein.<br />
Marasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor.</p>
<p>Patofisiologi dan Masalah Keperawatan yang Mungkin Terjadi</p>
<p> Status sosial ekonomi rendah        &#8212;&#8211; + &#8212;&#8211;        Kurang pengetahuan	 &#8212;&#8211; + &#8212;&#8211;         Sistem dukungan sosial tidak memadai</p>
<p>						Defisiensi Protein											Defisiensi Sumber Kalori               	  </p>
<p>												                 Katabolisme Protein &amp; Lemak ↑</p>
<p>					      Defisiensi Asam Amino Esensial	                            Hipoproteinemia		                     Defisiensi energi fisik<br />
													                 (hipoalbiminemia)<br />
   						     Gangguan Sintesis Sel						                                  Ggn pola aktivitas/bermain (cengeng, apatis)</p>
<p>		Ggn pertumbuhan fisik			Ggn perkembangan motorik-mental-sosial      Edema<br />
		- ukuran antropometrik &lt;&lt;              &#8211; motorik kasar<br />
								- motorik halus			       Risiko gangguan integritas kulit<br />
								- kognitif dan bahasa<br />
								- sosial</p>
<p>  					Ggn sintesis sel-sel darah:<br />
  					- Anemia gizi<br />
  					- Gangguan imunitas seluler				     Risiko infeksi sistemik ↑				</p>
<p>		                         							     	Pencernaan 			Pernapasan:<br />
											     	- mual/muntah			- bronkhitis<br />
										      ←     	- gastroenteritis			- brokhopneumonia     →    Ggn pola napas/bersihan jalan napas<br />
											     	- malabsorbsi			- tuberkulosis)</p>
<p>						Tindakan invasif:<br />
				- sonde/infus<br />
Gambaran Klinik dan Diagnosis<br />
		Gambaran klinik antara Marasmus dan Kwashiorkor sebenarnya berbeda walaupun dapat terjadi bersama-sama (Ngastiyah, 1997)</p>
<p>Gambaran Klinik Kwashiorkor:<br />
Pertumbuhan terganggu (berat badan dan tinggi badan kurang dari standar)<br />
Tabel 1: Perkiraan Berat Badan (Kg)<br />
1. Lahir			3,25<br />
2. 3-12 bulan			(bln + 9) / 2<br />
3. 1-6 tahun			(thn x 2) + 8<br />
4. 6-12 tahun			{(thn x 7) – 5} / 2<br />
 (Soetjiningsih, 1998, hal. 20)<br />
Tabel 2: Perkiraan Tinggi Badan (Cm)<br />
1. 1 tahun			1,5 x TB lahir<br />
2. 4 tahun			2 x TB lahir<br />
3. 6 tahun			1,5 x TB 1 thn<br />
4. 13 tahun			3 x TB lahir<br />
5. Dewasa			3,5 x TB lahir = 2 x TB 2 thn<br />
 (Soetjiningsih, 1998, hal. 21)<br />
Perubahan mental (cengeng atau apatis)<br />
Pada sebagian besar anak ditemukan edema ringan sampai berat)<br />
Gejala gastrointestinal (anoreksia, diare)<br />
Gangguan pertumbuhan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)<br />
Kulit kering, bersisik, hiperpigmentasi dan sering  ditemukan gambaran crazy pavement dermatosis.<br />
Pembesaran hati (kadang sampai batas setinggi pusat, teraba kenyal, licin dengan batas yang tegas)<br />
Anemia akibat gangguan eritropoesis.<br />
Pada pemeriksaan kimia darah ditemukan hipoalbuminemia dengan kadar globulin normal, kadar kolesterol serum rendah.<br />
Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, sering disertai tanda fibrosis, nekrosis dan infiltrasi sel mononukleus.<br />
Hasil autopsi pasien kwashiorkor yang berat menunjukkan terjadinya perubahan degeneratif pada semua organ (degenerasi otot jantung, atrofi fili usus, osteoporosis dan sebagainya)</p>
<p>Gambaran Klinik Marasmus:<br />
Pertumbuhan berkurang atau terhenti, otot-otot atrofi<br />
Perubahan mental (cengeng, sering terbangun tengah malam)<br />
Sering diare, warna hijau tua, terdiri dari lendir dengan sedikit tinja.<br />
Turgor kulit menurn, tampak keriput karena kehilangan jaringan lemak bawah kulit<br />
Pada keadaan marasmik yang berat, lemak pipi juga hilang sehingga wajah tampak lebih tua, tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol<br />
Vena superfisial tampak lebih jelas<br />
Perut membuncit dengan gambaran usus yang jelas.</p>
<p>Konsep Asuhan Keperawatan Marasmik-Kwashiorkor<br />
Riwayat Keperawatan<br />
Riwayat Keperawatan Sekarang<br />
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.<br />
Riwayat Keperawatan Sekarang<br />
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam waktu relatif lama).<br />
Riwayat Kesehatan Keluarga<br />
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.<br />
Pengkajian Fisik<br />
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.<br />
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:<br />
Penurunan ukuran antropometri<br />
Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)<br />
Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra<br />
Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot intercostal)<br />
Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi diare.<br />
Edema tungkai<br />
Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)</p>
<p>Pemeriksaan Penunjang<br />
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan  terutama jenis normositik normokrom karen<br />
A adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun. Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru. </p>
<p>Diagnosa Keperawatan<br />
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah:<br />
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.<br />
Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.<br />
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat.<br />
Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi trakheobronkhial.<br />
Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan</p>
<p>Rencana Keperawatan</p>
<p>1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare (Carpenito, 2000, hal. 645-655).</p>
<p>Tujuan dan Kriteria Hasil	Intervensi	Rasional</p>
<p>Klien akan menunjukkan pening-katan status gizi.</p>
<p>Kriteria:<br />
Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang.<br />
Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program dietetik.</p>
<p>Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang, tunjukkan contoh jenis sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien.</p>
<p>Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri.</p>
<p>Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.</p>
<p>Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi.</p>
<p>Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan selama hospitalisasi.</p>
<p>Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien.</p>
<p>Roborans meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yang menyertai keadaan malnutrisi.</p>
<p>Menilai perkembangan masalah klien.</p>
<p>2) Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare(Carpenito, 2000, hal. 411-419).</p>
<p>Tujuan dan Kriteria Hasil	Intervensi	Rasional</p>
<p>Klien akan menunjukkan keadaan hidrasi yang adekuat.</p>
<p>Kriteria:<br />
Asupan cairan adekuat sesuai kebutuhan ditambah defisit yang terjadi.<br />
Tidak ada tanda/gejala dehidrasi (tanda-tanda vital dalam batas normal, frekuensi defekasi ≤ 1 x/24 jam dengan konsistensi padat/semi padat).</p>
<p>Lakukan/observasi pemberian cairan per infus/sonde/oral sesuai program rehidrasi.</p>
<p>Jelaskan kepada keluarga tentang upaya rehidrasi dan partisipasi yang diharapkan dari keluarga dalam pemeliharan patensi pemberian infus/selang sonde.</p>
<p>Kaji perkembangan keadaan dehidarasi klien.</p>
<p>Hitung balans cairan.</p>
<p>Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan volume cairan.</p>
<p>Meningkatkan pemahaman keluarga tentang upaya rehidrasi dan peran keluarga dalam pelaksanaan terpi rehidrasi.</p>
<p>Menilai perkembangan masalah klien.</p>
<p>Penting untuk menetapkan program rehidrasi selanjutnya.</p>
<p>3) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat (Carpenito, 2000, hal. 448-460).	</p>
<p>Tujuan dan Kriteria Hasil	Intervensi	Rasional</p>
<p>Klien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.</p>
<p>Kriteria:<br />
Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai standar usia.<br />
Perkembangan motorik, bahasa/ kognitif dan personal/sosial sesuai standar usia.</p>
<p>Ajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas perkembangan sesuai usia anak.</p>
<p>Lakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet pemulihan.</p>
<p>Lakukan pengukuran antropo-metrik secara berkala.</p>
<p>Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien.</p>
<p>Lakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (Puskesmas/Posyandu)</p>
<p>Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>
<p>Diet khusus untuk pemulihan malnutrisi diprogramkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan toleransi sistem pencernaan.</p>
<p>Menilai perkembangan masalah klien.</p>
<p>Stimulasi diperlukan untuk mengejar keterlambatan perkembangan anak dalam aspek motorik, bahasa dan personal/sosial.</p>
<p>Mempertahankan kesinambungan program stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dengan memberdayakan sistem pendukung yang ada.</p>
<p>4) Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi trakheobronkhial (Carpenito, 2000, hal. 575-580).	</p>
<p>Tujuan dan Kriteria Hasil	Intervensi	Rasional</p>
<p>Klien tidak mengalami aspirasi.</p>
<p>Kriteria:<br />
Pemberian makan/minuman per sonde dapat dilakukan tanpa mengalami aspirasi.<br />
Bunyi napas normal, ronchi tidak ada.</p>
<p>Periksa dan pastikan letak selang sonde pada tempat yang semestinya secara berkala.</p>
<p>Periksa residu lambung setiap kali sebelum pemberian makan-an/minuman.</p>
<p>Tinggikan posisi kepala klien selama dan sampai 1 jam setelah pemberian makanan/minuman.</p>
<p>Ajarkan/demonstrasikan tatacara pelaksanaan pemberian makanan/ minuman per sonde, beri kesempatan keluarga melakukan-nya setelah memastikan keamanan klien/kemampuan keluarga.</p>
<p>Observasi tanda-tanda aspirasi.</p>
<p>Merupakan tindakan preventif, meminimalkan risiko aspirasi.</p>
<p>Penting untuk menilai tingkat kemampuan absorbsi saluran cerna dan waktu pemberian makanan/minuman yang tepat. </p>
<p>Mencegah refluks yang dapat menimbulkan aspirasi.</p>
<p>Melibatkan keluarga penting bagi tindak lanjut perawatan klien. </p>
<p>Menilai perkembangan masalah klien.</p>
<p>5) Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan (Carpenito, 2000, hal. 799-801).</p>
<p>Tujuan dan Kriteria Hasil	Intervensi	Rasional</p>
<p>Klien akan menunjukkan jalan napas yang efektif.</p>
<p>Kriteria:<br />
Jalan napas bersih dari sekret, sesak napas tidak ada, pernapasan cuping hidung tidak ada, bunyi napas bersih, ronchi tidak ada.</p>
<p>Lakukan fisioterapi dada dan suction secara berkala.</p>
<p>Lakukan pemberian obat mukolitik/ekspektorans  sesuai program terapi.</p>
<p>Observasi irama, kedalaman dan bunyi napas.</p>
<p>Fisioterapi dada meningkatkan pelepasan sekret. Suction diperlukan selama fase hipersekresi trakheobronkhial.</p>
<p>Mukolitik memecahkan ikatan mukus; ekspektorans mengencerkan m,ukus.</p>
<p>Menilai perkembangan maslah klien.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. Ke-6, EGC, Jakarta.</p>
<p>Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta</p>
<p>Soetjiningsih (1998), Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=79&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-%e2%80%9cmarasmik-kwashiorkor%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN RESPIRATORY DISTRESS SYDROME (RDS)</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-respiratory-distress-sydrome-rds/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-respiratory-distress-sydrome-rds/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 10:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[I. DEFINISI Dikenal juga sebagai respiratory distress sydrom yang idiopatik, hyaline membrane disease merupakan keaadaan akut yang terutama ditemukan pada bayi prematur saat lahir atau segera setelah lahir, lebih sering pada bayi dengan usia gestasi dibawah 32 yang mempunyai berat dibawah 1500 gram. Kira-kira 60% bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu mengalami RDS. Bangunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=75&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I.	DEFINISI<br />
Dikenal juga sebagai respiratory distress sydrom yang idiopatik, hyaline membrane disease merupakan keaadaan akut yang terutama ditemukan pada bayi prematur saat lahir atau segera setelah lahir, lebih sering pada bayi dengan usia gestasi dibawah 32 yang mempunyai berat dibawah 1500 gram. Kira-kira 60% bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu mengalami RDS.</p>
<p>Bangunan paru janin dan produksi surfactan penting untuk fungsi respirasi normal. Bangunan paru dari produksi surfaktan bervariasi pada masing-masing bayi. Bayi prematur lahir sebelum produksi surfactan memadai. Surfactan, suatu senyawa lipoprotein yang mengisi alveoli, mencegah alveolar colaps dan menurunkan kerja respirasi dengan menurunkan tegangan permukaan. Pada defisiensi surfactan, tegangan permukaan meningkat, menyebabkan kolapsnya alveolar dan menurunnya komplians paru, yang mana akan mempengaruhi ventilasi alveolar  sehingga terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan acidosis respiratory. Reduksi pada ventilasi akan menyebabkan ventilasi dan perfusi sirkulasi paru menjadi buruk, menyebabkan keadaan hipoksemia. Hipoksia jaringan dan acidosis metabolik terjadi berhubungan dengan atelektasis dan kegagalan pernafasan yang progresif. </p>
<p>RDS merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan pada bayi prematur, biasanya setelah 3 – 5 hari. Prognosanya buruk jika support ventilasi lama diperlukan, kematian bisa terjadi setelah 3 hari penanganan.</p>
<p>II.	ETIOLOGY DAN FAKTOR PRESIPITASI<br />
-	Prematuritas dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu) dan tidak adanya, gangguan atau defisiensi surfactan<br />
-	Bayi prematur yang lahir dengan operasi caesar<br />
-	Penurunan suplay oksigen saat janin atau saat kelahiran pada bayi matur atau prematur.</p>
<p>III.	PENGKAJIAN<br />
Riwayat maternal<br />
-	Menderita penyakit seperti diabetes mellitus<br />
-	Kondisi seperti perdarahan placenta<br />
-	Tipe dan lamanya persalinan<br />
-	Stress fetal atau intrapartus</p>
<p>Status infant saat lahir<br />
-	Prematur, umur kehamilan<br />
-	Apgar score, apakah terjadi aspiksia<br />
-	Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar</p>
<p>Cardiovaskular<br />
-	Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat<br />
-	Murmur sistolik<br />
-	Denyut jantung dalam batas normal</p>
<p>Integumen<br />
-	Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi periferal<br />
-	Pitting edema pada tangan dan kaki<br />
-	Mottling</p>
<p>Neurologis<br />
-	Immobilitas, kelemahan, flaciditas<br />
-	Penurunan suhu tubuh</p>
<p>Pulmonary<br />
-	Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 – 100 x )<br />
-	Nafas grunting<br />
-	Nasal flaring<br />
-	Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal<br />
-	Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral)  berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin<br />
-	Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea</p>
<p>IV.	STATUS BEHAVIORAL<br />
-	Lethargy</p>
<p>V.	STUDY DIAGNOSTIK<br />
-	Seri rontqen dada, untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar<br />
-	Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.</p>
<p>Data laboratorium<br />
-	Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan bahan cairan amnion (untuk janin yang mempunyai predisposisi RDS)<br />
	Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio<br />
2 : 1 atau lebih mengindikasikan maturitas paru<br />
	Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu<br />
	Tingkat phosphatydylinositol<br />
-	Analisa Gas Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2 kurang dari 60 mmHg, saturasi oksigen 92% &#8211; 94%, pH 7,31 – 7,45<br />
-	Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel alveolar yang rusak</p>
<p>VI.	DIAGNOSA KEPERAWATAN</p>
<p>Kolaboratif problem : Insufisiensi respiratory berhubungan dengan penurunan volume dan komplians paru, perfusi paru dan vintilasi alveolar</p>
<p>Tujuan 1 : Tanda dan gejala disstres pernafasan, deviasi dari fungsi dan resiko infant terhadap RDS dapat teridentifikasi</p>
<p>Intervensi	Rasional<br />
1.	Kaji infant yang beresiko mengalami RDS yaitu :<br />
-	Riwayat ibu dengan daibetes mellitus atau perdarahan placenta<br />
-	Prematuritas bayi<br />
-	Hipoksia janin<br />
-	Kelahiran melalui operasi caesar	Pengkajian diperlukan untuk menentukan intervensi secepatnya bila bayi menunjukkan adanya tanda disstres nafas dan terutama untuk memperbaiki prognosa<br />
2.	Kaji perubahan status pernafasan termasuk :<br />
-	Takipnea (pernafasan diatas 60 x per menit, mungkin 80 – 100 x)<br />
-	Nafas grunting<br />
-	Nasal flaring<br />
-	Retraksi intercostal, suprasternal atau substernal dengan penggunaan otot bantu nafas<br />
-	Cyanosis<br />
-	Episode apnea, penurunan suara nafas dan adanya crakles	Perubahan tersebut mengindikasikan RDS telah terjadi, panggil dokter untuk tindakan secepatnya<br />
-	Pernafasan bayi meningkat karena peningkatan kebutuhan oksigen<br />
-	Suara ini merupakan suara keran penutupan glotis untuk menghentikan ekhalasi udara dengan menekan pita suara<br />
-	Merupakan keadaan untuk menurunkan resistensi dari respirasi dengan membuka lebar jalan nafas<br />
-	Retraksi mengindikasikan ekspansi paru yang tidak adekuat selama inspirasi<br />
-	Cyanosis terjadi sebagai tanda lanjut dengan PO2 dibawah 40 mmHg<br />
-	Episode apneu dan penurunan suara nafas menandakan distress nafas semakin berat<br />
3.	Kaji tanda yang terkait dengan RDS<br />
-	Pallor dan pitting edema pada tangan dan kaki selama 24 jam<br />
-	Kelemahan otot<br />
-	Denyut jantung dibawah 100 x per menit pada stadium lanjut<br />
-	Nilai AGD dengan PO2 dibawah 40 mmHg, pco2 diatas 65 mmHg, dan pH dibawah 7,15<br />
	Tanda-tanda tersebut terjadi pada RDS<br />
-	Tanda ini terjadi karena vasokontriksi perifer dan penurunan permeabilitas vaskuler<br />
-	Tanda ini terjadi karena ekshaution yang disebabkan kehilangan energi selama kesulitan nafas<br />
-	Bradikardia terjadi karena hipoksemia berat<br />
-	Tanda ini mengindikasikan acidosis respiratory dan acidosis metabolik jika bayi hipoksik<br />
4.	Monitor PO2 trancutan atau nilai pulse oksimetri secara kontinyu setiap jam	Nilai PO2 traskutan dan pulse oksimetri non invasif menunjukkan prosentase oksigen saat inspirasi udara. </p>
<p>Tujuan 2. Mempertahankan dan memaksimalkan fungsi pulmonal<br />
Intervensi	Rasional<br />
1.	Berikan kehangatan dan oksigen sesuai dengan sbb<br />
-	Oksigen yang dihangatkan 31,7C – 33,9C<br />
-	Humidifikasi 40% &#8211; 60%<br />
-	Beri CPAP positif<br />
-	Beri PEEP positif	Untuk mencegah terjadinya hipotermia dan memenuhi kebutuhan oksigen tubuh</p>
<p>2.	Berikan pancuronium bromide (Pavulon)	Obat ini berguna sebagai relaksan otot untuk mencegah injury karena pergerakan bayi saat ventilasi<br />
3.	Tempatkan bayi  pada lingkungan dengan suhu normal serta monitor temperatur aksila setiap jam	Lingkungan dengan suhu netral akan menurunkan kebutuhan oksigen dan menurunkan produksi CO2.<br />
4.	Monitor vital signs secara kontinyu yaitu denyut jantung, pernafasan, tekanan darah, serta auskultasi suara nafas	Perubahan vital signs menandakan tingkat keparahan atau penyembuhan<br />
5.	Observasi perubahan warna kulit, pergerakan dan aktivitas	Karena perubahan warna kulit, pergerakan dan aktivitas mengindikasikan peningkatan metabolisme oksigen dan glukosa. Informasi yang penting lainnya adalah perubahan kebutuhan cairan, kalori dan kebutuhan oksigen.<br />
6.	Pertahankan energi pasien dengan melakukan prosedur seefektif mungkin.	Mencegah penurunan tingkat energi infant<br />
7.	Monitor serial AGD seperti PaO2, PaCo2, HCO3 dan pH setiap hari atau bila dibutuhkan	Perubahan mengindikasikan terjadinya acidosis respiratorik atau metabolik</p>
<p>Diagnosa keperawatan : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap, penurunan motilitas usus.</p>
<p>Tujuan : Mempertahankan dan mendukung intake nutrisi</p>
<p>Intervensi	Rasional<br />
1.	Berikan infus D 10% W sekitar 65 – 80 ml/kg bb/ hari<br />
	Untuk menggantikan kalori yang tidak didapat secara oral<br />
2.	Pasang selang nasogastrik atau orogastrik untuk dapat memasukkan makanan jika diindikasikan atau untuk mengevaluasi isi lambung	Pilihan ini dilakukan jika masukan sudah tidak mungkin dilakukan.<br />
3.	Cek lokasi selang NGT dengan cara :<br />
-	Aspirasi isi lambung<br />
-	Injeksikan sejumlah udara dan auskultasi masuknya udara pada lambung<br />
-	Letakkan ujung selang di air, bila masuk lambung, selang tidak akan memproduksi gelembung	Untuk mencegah masuknya makanan ke saluran pernafasan<br />
4.	Berikan makanan sesuai dengan prosedur berikut :<br />
-	Elevasikan kepala bayi<br />
-	Berikan ASI atau susu formula dengan prinsip gravitasi  dengan ketinggian 6 – 8 inchi dari kepala bayi<br />
-	Berikan makanan dengan suhu ruangan<br />
-	Tengkurapkan bayi setelah makan sekitar 1 jam<br />
	Memberikan makanan tanpa menurunkan tingkat energi bayi<br />
5.	Berikan TPN jika diindikasikan	TPN merupakan metode alternatif untuk mempertahankan nutrisi jika bowel sounds tidak ada dan infants berada pada stadium akut.</p>
<p>Diagnosa keperawatan : Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sensible dan insesible</p>
<p>Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit</p>
<p>Intervensi	Rasional<br />
1.	Pertahankan pemberian infus Dex 10% W 60 – 100 ml/kg bb/hari	Penggantian cairan secara adekuat untuk mencegah ketidakseimbangan<br />
2.	Tingkatkan cairan infus 10 ml/kg/hari, tergantung dari urine output, penggunaan pemanas dan jumlah feedings<br />
 	Mempertahankan asupan cairan sesuai kebutuhan pasien. Takipnea dan penggunaan pemanas tubuh akan meningkatkan kebutuhan cairan<br />
3.	Pertahankan tetesan infus secara stabil, gunakan infusion pump<br />
	Untuk mencegah kelebihan atau kekurangan cairan. Kelebihan cairan dapat menjadi keadaan fatal.<br />
4.	Monitor intake cairan dan output dengan cara :<br />
-	Timbang berat badan bayi setiap 8 jam<br />
-	Timbang popok bayi untuk menentukan urine output<br />
-	Tentukan jumlah BAB<br />
-	Monitor jumlah asupan cairan infus setiap hari	Catatan intake dan output cairan penting untuk menentukan ketidak seimbangan cairan  sebagai dasar untuk penggantian cairan<br />
5.	Lakukan pemeriksaan sodium dan potassium setiap 12 atau 24 jam<br />
	Peningkatan tingkat sodium dan potassium mengindikasikan terjadinya dehidrasi dan potensial ketidakseimbangan elektrolit</p>
<p>Diagnosa keperawatan : Koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas, perasaan bersalah, dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis</p>
<p>Tujuan : Meminimalkan kecemasan dan rasa bersalah, dan mendukung bounding antara orangtua dan infant</p>
<p>Intervensi	Rasional<br />
1.	Kaji respon verbal dan non verbal orangtua terhadap kecemasan dan penggunaan koping mekanisme	Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan membangun strategi koping yang efektif<br />
2.	Bantu orangtua mengungkapkan perasaannya secara verbal tentang kondisi sakit anaknya, perawatan yang lama pada unit intensive, prosedur dan pengobatan infant	Membuat orangtua bebas mengekpresikan perasaannya sehingga membantu menjalin rasa saling percaya, serta mengurangi tingkat kecemasan<br />
3.	Berikan informasi yang akurat dan konsisten tentang kondisi perkembangan infant	Informasi dapat mengurangi kecemasan<br />
4.	Bila mungkin, anjurkan orangtua untuk mengunjungi dan ikut terlibat dalam perawatan anaknya	Memfasilitasi proses bounding<br />
5.	Rujuk pasien pada perawat keluarga atau komunitas	Rujukan untuk mempertahankan informasi yang adekuat, serta membantu orangtua menghadapi keadaan sakit kronis pada anaknya.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Melson, A. Kathryn &amp; Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second Edition, Springhouse Corporation, Pennsylvania, 1994</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=75&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-respiratory-distress-sydrome-rds/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN  PENYAKIT JANTUNG BAWAAN :  PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-penyakit-jantung-bawaan-patent-ductus-arteriosus-pda/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-penyakit-jantung-bawaan-patent-ductus-arteriosus-pda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 10:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=72&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda.<br />
(IPD FKUI,1996 ;1134)</p>
<p>A.	Pengertian<br />
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3 minggu. Bila tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten (Persistent Ductus Arteriosus : PDA). (Buku ajar kardiologi FKUI, 2001 ; 227)<br />
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta tang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. (Suriadi, Rita Yuliani, 2001; 235)<br />
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz &amp; Sowden, 2002 ; 375)</p>
<p>B.	Etiologi<br />
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :<br />
1.	Faktor Prenatal :<br />
	Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.<br />
	Ibu alkoholisme.<br />
	Umur ibu lebih dari 40 tahun.<br />
	Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.<br />
	Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.<br />
2.	Faktor Genetik :<br />
	Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.<br />
	Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.<br />
	Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.<br />
	Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.<br />
(Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)</p>
<p>C.	Manifestasi Klinis<br />
Manifestasi  klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalah-masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom gawat nafas). Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 – 6 jam sesudah lahir. Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan PDA lebih besar dapat menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif (CHF)<br />
•	Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung<br />
•	Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata terdengar di tepi sternum kiri atas)<br />
•	Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mm Hg)<br />
•	Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik<br />
•	Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.<br />
•	Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah<br />
•	Apnea<br />
•	Tachypnea<br />
•	Nasal flaring<br />
•	Retraksi dada<br />
•	Hipoksemia<br />
•	Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan masalah paru)<br />
(Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236, Betz &amp; Sowden, 2002 ; 376)</p>
<p>D.	Pathways<br />
Terlampir</p>
<p>E.	Komplikasi<br />
	Endokarditis<br />
	Obstruksi pembuluh darah pulmonal<br />
	CHF<br />
	Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)<br />
	Enterokolitis nekrosis<br />
	Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner)<br />
	Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit<br />
	Hiperkalemia (penurunan keluaran urin.<br />
	Aritmia<br />
	Gagal tumbuh<br />
(Betz &amp; Sowden, 2002 ; 376-377, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)</p>
<p>F.	Penatalaksanaan Medis<br />
	Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan bemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular,  Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.<br />
	Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.<br />
	Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung.<br />
(Betz &amp; Sowden, 2002 ; 377-378, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)</p>
<p>G.	Pemeriksaan Diagnostik<br />
1.	Foto Thorak : Atrium dan ventrikel kiri membesar secara signifikan (kardiomegali), gambaran vaskuler paru meningkat<br />
2.	Ekhokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan)<br />
3.	Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran darah dan arahnya.<br />
4.	Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.<br />
5.	Kateterisasi jantung : hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.<br />
(Betz &amp; Sowden, 2002 ;377)</p>
<p>H.	Pengkajian<br />
	Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas)<br />
	Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung, nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan (machinery mur-mur), edera tungkai, hepatomegali.<br />
	Kaji adanya hipoksia kronis : Clubbing finger<br />
	Kaji adanya hiperemia pada ujung jari<br />
	Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan<br />
	Pengkajian psikososial meliputi : usia anak, tugas perkembangan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress.</p>
<p>I.	Diagnosa Keperawatan<br />
1.	Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung.<br />
2.	Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal.<br />
3.	Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel.<br />
4.	Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.<br />
5.	Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.<br />
6.	Resiko infeksi b.d menurunnya status kesehatan.<br />
7.	Perubahan peran orang tua b.d hospitalisasi anak, kekhawatiran terhadap penyakit anak.</p>
<p>J.	Intervensi<br />
1.	Mempertahankan curah jantung yang adekuat :<br />
•	Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit<br />
•	Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral, membran mukosa, clubbing)<br />
•	Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, takikardi, tachypnea, sesak, mudah lelah, periorbital edema, oliguria, dan hepatomegali)<br />
•	Kolaborasi pemberian digoxin sesuai order, dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas.<br />
•	Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload<br />
•	Berikan diuretik sesuai indikasi.</p>
<p>2.	Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru:<br />
•	Monitor kualitas dan irama pernafasan<br />
•	Atur posisi anak dengan posisi fowler<br />
•	Hindari anak dari orang yang terinfeksi<br />
•	Berikan istirahat yang cukup<br />
•	Berikan nutrisi yang optimal<br />
•	Berikan oksigen jika ada indikasi</p>
<p>3.	Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat :<br />
•	Ijinkan anak untuk sering beristirahat, dan hindarkan gangguan pada saat tidur<br />
•	Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan<br />
•	Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak.<br />
•	Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin<br />
•	Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan / kecemasan pada anak</p>
<p>4.	Memberikan support untuk tumbuh kembang<br />
•	Kaji tingkat tumbuh kembang anak<br />
•	Berikan stimulasi tumbuh kembang, kativitas bermain, game, nonton TV, puzzle, nmenggambar, dan lain-lain sesuai kondisi dan usia anak.<br />
•	Libatkan keluarga agar tetap memberikan stimulasi selama dirawat</p>
<p>5.	Mempertahankan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan yang sesuai<br />
•	Sediakan diit yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat<br />
•	Monitor tinggi badan dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak<br />
•	Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama<br />
•	Catat intake dan output secara benar<br />
•	Berikan makanan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan<br />
•	Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak dibatasi.</p>
<p>6.	Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi<br />
•	Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi<br />
•	Berikan istirahat yang adekuat<br />
•	Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal</p>
<p>7.	Memberikan support pada orang tua<br />
•	Ajarkan keluarga / orang tua untuk mengekspresikan perasaannya karena memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskudikan rencana pengobatan, dan memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan<br />
•	Ekplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan, rasa bersalah, berduka, dan perasaan tidak mampu<br />
•	Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas<br />
•	Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit<br />
•	Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota keluarga lain dalama perawatan anak.</p>
<p>K.	Hasil Yang Diharapkan<br />
1.	Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung<br />
2.	Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru<br />
3.	Anaka akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat<br />
4.	Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat dan tinggi badan<br />
5.	Anaka akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan<br />
6.	Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi<br />
7.	Orang tua akan mengekspresikan perasaannya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan, dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan.</p>
<p>L.	Perencanaan Pemulangan<br />
•	Kontrol sesuai waktu yang ditentukan<br />
•	Jelaskan kebutuhan aktiviotas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan usia dan kondisi penyakit<br />
•	Mengajarkan ketrampilan yang diperlukan di rumah, yaitu :<br />
-	Teknik pemberian obat<br />
-	Teknik pemberian makanan<br />
-	Tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal yang  mencemaskan tanda-tanda komplikasi, siapa yang akan dihubungi jika membutuhkan pertolongan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=72&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-penyakit-jantung-bawaan-patent-ductus-arteriosus-pda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN ANAK  DENGAN TUBERKULOSIS PARU</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-dengan-tuberkulosis-paru/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-dengan-tuberkulosis-paru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 10:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[By; Ferdynandus Felix TL., S.Kep., Ners. PENGERTIAN Pangertian Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru. Yang biasanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis (Amin, M.,1999). Faktor Resiko  Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara.  Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan.  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=69&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By; Ferdynandus Felix TL., S.Kep., Ners.</p>
<p>PENGERTIAN<br />
Pangertian<br />
Penyakit infeksi kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru. Yang biasanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis  (Amin, M.,1999).<br />
Faktor Resiko<br />
	Rasial/Etnik group : Penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro, Imigran dari Asia Tenggara.<br />
	Klien dengan ketergantuangan alkhohol dan kimia lain yang menimbulkan penurunan status kesehatan.<br />
	Bayi dan anak di bawah 5 tahun.<br />
	Klien dengan penurunan imunitas : HIV positip, terapi steroid &amp; kemoterapi kanker.</p>
<p>Tuberkolosis yang terjadi pada paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis, terjadi dalam 6 bulan pertama setelah terjadi infeksi sebagai akibat penyebaran limfogen dan atau hematogen, biasanya multipel.</p>
<p>PATOGENESIS	</p>
<p>             Tanpa infeksi	  	              Inflamasi		disebar oleh limfe</p>
<p>				            Fibrosis		                  Timbul jar. Ikat sifat<br />
								       Elastik &amp; tebal.<br />
				             Kalsifikasi<br />
  &#8211; Batuk							                 Alaveolus  tidak<br />
  &#8211; Spuntum purulen	                           Exudasi		                     kembali saat<br />
  &#8211; Hemoptisis						                        ekspirasi<br />
  &#8211; BB menurun		           Nekrosis/perkejuan<br />
								       Gas tidak dapat<br />
				             Kavitasi 		                    berdifusi dgn. Baik.</p>
<p>								         Sesak</p>
<p>			     95%                                    5%</p>
<p>					       5%</p>
<p>       Kuman</p>
<p>                                                          Infeksi primer</p>
<p>Sembuh  total		          Sembuh dgn. Sarang		Komplikasi<br />
				          ghon		         &#8211; Menyebar ke seluruh<br />
                                                                                                                 tubuh scr. Bronkhogen,<br />
                                                                                                                 limphogen, hematogen</p>
<p>Infeksi post primer                      Kuman dormant<br />
                                                     Muncul bertahun kemudian</p>
<p>Diresorpsi kembali/sembuh        Membentuk jar. keju                   Sarang meluas<br />
	      		            Jika dibatukkan                          sembuh dgn.<br />
			             membentuk kavitas.              Jar. Fibrotik</p>
<p>		.</p>
<p>Kavitas meluas                 Memadat &amp; membungkus diri	           Bersih &amp; menyembuh<br />
Membentuk sarang                         tuberkuloma		</p>
<p>Patofisiological pathway</p>
<p>    TBC</p>
<p>Virus/Bakteri masuk Jaringan Otak</p>
<p>                                                                                 Peradangan Di Otak</p>
<p>Edema             Pembentukan<br />
	Transudat &amp; Eksudat</p>
<p>Gangguan Perfusi 	Reaksi Kuman                 Iritasi Korteks 	Kerusakan     Kerusakan<br />
Jaringan Cerebral	Patogen	Cerebral Area 	Saraf IV	 Saraf IX<br />
		Fokal Seizure </p>
<p>	Suhu Tubuh 	Resiko Trauma	Sulit 		   Sulit<br />
		Nyeri	Mengunyah     Makan</p>
<p>	Deficit Cairan                                        Gangguan  Pemenuhan<br />
                                                                                                                            Nutrisi</p>
<p>Kesadaran	Hipovolemik</p>
<p>Stasis Cairan Tubuh 	Gangguan Mobilitas Fisik<br />
	Gangguan Persepsi Sensori<br />
Penumpukan Sekret</p>
<p>Gangguan Bersihan Jalan Nafas</p>
<p>LESI PADA TBC PARU</p>
<p>Kelenjar limfe : hilus, parantrakeal, mediatinum<br />
Parenkhim : fokos primer, pnemonia, atelaktis, terkuloma, kavitas<br />
Saluran pernafasan : air traping” penyakit endobronkhial , trakeobronkhial, stenosis, bronkhus, fistula bronkhopleura, bronkhopl, bronkhoektasis, fistula bronkhoesofagus.<br />
Pleura : efusi, emfisema, pneumothorak, hemothorak, fistula bronkhop;eura<br />
Pembuluh darah : milier, perdarahan paru.</p>
<p>Bentuk klinis TBC Pada Anak</p>
<p>PENGKAJIAN KEPERAWATAN<br />
1.	Identitas klien: selain nama klien, juga orangtua; asal kota dan daerah, jumlah keluarga.<br />
2.	Keluhan: penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.<br />
3.	Riwayat penyakit sekarang:<br />
Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula.<br />
4.	Riwayat penyakit dahulu:<br />
  Pernah sakit batuk yang lama dan benjolan bisul pada leher serta tempat  kelenjar yang lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak sembuh-sembuh?<br />
	Pernah berobat tapi tidak sembuh?<br />
	Pernah berobat tapi tidak teratur?<br />
	Riwayat kontak dengan penderita TBC.<br />
	Daya tahan yang menurun.<br />
	Riwayat imunisasi/vaksinasi.<br />
	Riwayat pengobatan.<br />
5.	   Riwayat sosial ekonomi dan lingkungan.<br />
	Riwayat keluarga.<br />
	Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama.<br />
	Aspek psikososial.<br />
	Merasa dikucilkan.<br />
	Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri.<br />
	Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.<br />
	Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak.<br />
	Tidak bersemangat dan putus harapan.<br />
Lingkungan:<br />
	Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang banyak.<br />
6.	Pola fungsi kesehatan.<br />
1)	Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan.<br />
Keadaan umum: alergi, kebiasaan, imunisasi.<br />
2)	Pola nutrisi &#8211;  metabolik.<br />
Anoreksia, mual, tidak enak diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan, turgor kulit jelek.<br />
3)	Pola eliminasi<br />
Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan splenomegali.<br />
4)	Pola aktifitas – latihan<br />
Sesak nafas, fatique, tachicardia,aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas pendek).<br />
5)	Pola tidur dan istirahat<br />
Iritable, sulit tidur, berkeringat pada malam hari.<br />
6)	Pola kognitif – perseptual<br />
Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum, takut, masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak mampu.<br />
7)	Pola persepsi diri<br />
Anak tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah.<br />
8)	Pola peran – hubungan<br />
Anak menjadi ketergantungan terhadap orang lain (ibu/ayah)/tidak mandiri.<br />
9)	Pola seksualitas/reproduktif<br />
Anak biasanya dekat dengan ibu daripada ayah.<br />
10)	 Pola koping – toleransi stres<br />
Menarik diri, pasif.</p>
<p>PEMERIKSAAN FISIK<br />
1.	•  Demam: sub fibril, fibril (40 – 41oC) hilang timbul.<br />
•	Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/  mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulen (menghasilkan sputum).<br />
•	Sesak nafas: terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.<br />
•	Nyeri dada: ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura.<br />
•	Malaise: ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan kering diwaktu malam hari.<br />
•	Pada tahap dini sulit diketahui.<br />
•	Ronchi basah, kasar dan nyaring.<br />
•	Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara limforik.<br />
•	Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.<br />
•	Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)<br />
2.	Pembesaran kelenjar biasanya multipel.<br />
3.	Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal), axilla, inguinal dan sub mandibula.<br />
4.	Kadang terjadi abses.</p>
<p>PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN<br />
1.	Uji tuberkulin<br />
Infeksi TB  imunitas seluler  hipersensitifitas tipe lambat  uji tuberkulin +.<br />
2.	Foto rontgent<br />
Rutin: foto pada Rö paru.<br />
Atas indikasi: tulang, sendi, abdomen.<br />
Rontgent paru tidak selalu khas.<br />
3.	Gambaran klinis:<br />
•	Tanpa gejala.<br />
•	Gejala umum/tidak spesifik.<br />
-	Demam lama.<br />
-	BB turun/tidak naik.<br />
-	Malnutrisi.<br />
-	Malaise.<br />
-	Batuk lama.<br />
-	Diare berlanjut/berulang.<br />
•	Gejala spesifik, sesuai organ yang terkena.<br />
Kelenjar: kelenjar membesar skrofulodivina.<br />
Respiratorik: batuk, sesak, mengi.<br />
Neurologik: kejang, kaku kuduk.<br />
Ortopedik: pincang, gibbus.<br />
GI: diare berlanjut.<br />
4.	Pemeriksaan mikrobiologis<br />
-  Bakteriologis<br />
   Memastikan TB.<br />
         Hasil normal: tidak menyingkirkan diagnosa TB.<br />
   Hasil +:  10 – 62% dengan cara lama.<br />
   Cara    : cara lama radio metrik (Bactec); PCK.<br />
5.	Pemeriksaan darah tepi<br />
Tidak khas.<br />
LED dapat meninggi.<br />
6.	Pemeriksaan patologik anatomik<br />
Kelenjar, hepar, pleura; atas indikasi.<br />
7.	Sumber infeksi<br />
Adanya kontak dengan penderita TB menambah kriteria diagnosa.<br />
8.	Lain-lain<br />
-	Uji faal paru.<br />
-	Bronkoskopi.<br />
-	Bronkografi.<br />
-	Serologi.<br />
-	dll.</p>
<p>PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN<br />
Penatalaksanaan<br />
	Penyuluhan<br />
	Pencegahan<br />
	Pemberian obat-obatan<br />
1.	OAT ( oabat anti tuberkulosa )<br />
2.	Bronchodilator<br />
3.	Expectoran<br />
4.	OBH<br />
5.	Vitamin<br />
6.	Antibiotik<br />
	Operasi untuk mengeluarkan kelenjar yang membesar.</p>
<p>TAHAP TUMBUH KEMBANG ANAK<br />
	Menurut Soetjiningsih:<br />
Masa pra sekolah usia 1-6 tahun.<br />
	Menurut Donna L. Wong:<br />
Masa anak-anak awal 1-6 tahun.<br />
Pra sekolah: 3-6 tahun.</p>
<p>Tahap pertumbuhan cepat:<br />
Pertumbuhan cepat pada masa pra-adolesen.  Terdapat pertumbuhan fisik/jasmani yang sangat pesat, dimana tubuh anak menjadi cepat besar, BB naik dengan pesat serta panjang badan (PB) juga bertambah dengan cepat, anak makan dengan banyak serta aktifitas bertambah.  Pertumbuhan tampaknya mengikuti satu irama tertentu dan berlangsung secara bergantian.</p>
<p>Tahap pertumbuhan otak<br />
•	Umur 5 tahun: sangat lambat (Morley, D: 1986).<br />
Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:<br />
Suatu proses pertambahan pematangan fungsi struktur tubuh serta kejiwaan yang menimbulkan dorongan untuk mencari stimulasi dan kesenangan secara umum termasuk didalamnya dorongan untuk menjadi dewasa.<br />
•	Fase oedipal/falik (3-5 tahun)<br />
-	Mulai melakukan rangsangan autoerotik.<br />
-	Bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.<br />
-	Aanak pasca oedipal berkelompok dengan sejenis.<br />
Oedipus komplek:  anak lelaki dekat ibunya karena perasaan cinta/tertarik.<br />
Elektra komplek  :   anak perempuan dekat ayahnya karena perasaan cinta/ tertarik.<br />
•	Fase laten (5 – 12 tahun)<br />
-	Masuk ke permulaan fase pubertas.<br />
-	Periode terintegrasi.<br />
-	Fase tenang.<br />
-	Dorong libido mereda sementara.<br />
-	Erotik zona berkurang.<br />
-	Anak tertarik dengan per group (kelompok sebaya).</p>
<p>Tahap perkembangan manusia ditinjau dari aspek psikososial menurut Erik Erickson:<br />
Dibagi 8 tahap perkembangan mulai dari lahir sampai usia tua:<br />
-	Tahap ke-3; krisis perkembangan : initiative vs guilt (inisiatif vs perasaan bersalah; nama tahap: pre school/usia pra sekolah.<br />
-	4 – 6 tahun:<br />
Kepercayaan yang diperoleh anak tidak diartikan bahwa ia diperbolehkan memiliki inisiatif dalam belajar mencari pengalaman-pengalaman baru secara aktif seperti bagaimana dan mengapa tentang sesuatu sehingga anak dapat memperluas aktifitasnya, jika anak dilarang dan diomeli/dicela untuk usaha itu yang mencari pengalaman baru, anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang, keterampilan motorik dan bahasanya.</p>
<p>DIAGNOSA PERAWATAN<br />
1.	Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :<br />
	Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis<br />
	Kerusakan membran alveolar kapiler<br />
	Sekret yang kental<br />
	Edema bronchial<br />
2.	Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :<br />
	Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap<br />
	Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar<br />
	Malnutrisi<br />
	Terkontaminasi oleh lingkungan<br />
	Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman<br />
3.	Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan, berhubungan dengan :<br />
	Tidak ada yang menerangkan<br />
	Interpretasi yang salah, tidak akurat<br />
	Informasi yang didapat tidak lengkap<br />
	Terbatasnya pengetahuan / kognitif<br />
4.	Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan :<br />
	Kelelahan<br />
	Batuk yang sering, adanya produksi sputum<br />
	Dyspnoe<br />
	Anoreksia<br />
	Penurunan kemampuan finansial (keluarga).</p>
<p>INTERVENSI KEPERAWATAN DAN RASIONAL</p>
<p>Dx. I.<br />
Independen<br />
1.	Kaji dyspnoe, takipnoe, bunyi pernafasan abnormal. Meningkatnya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan fatique.<br />
TB paru dapat menyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-paru yang berasal dari bronchopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural efusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.<br />
2.	Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan kulit, selaput mukosa dan warna kuku.<br />
	Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenasi di organ vital dan jaringan<br />
3.	Demontrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan nafas dengan bibir disiutkan, terutama pada klien dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.<br />
Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan nafas dan mengurangi residu dari paru-paru<br />
4.	Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktivitas<br />
	Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi</p>
<p>Kolaborasi<br />
5.	Monitor BGA<br />
	Menurunnya oksigen ( PaO2 ), saturasi atau meningkatnya PaCo2 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan therapi.<br />
6.	Memberikan oksigen tambahan<br />
	Membantu mengoreksi hipoksemia yang secara sekunder mengurangi ventilasi dan menurunnya tegangan paru.</p>
<p>Dx. II.<br />
Independen<br />
1.	Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui aliran darah atau sistem limfe dan potensial infeksi melalui batuk, bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.<br />
Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima terhadap terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.<br />
2.	Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.<br />
Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi pencegahan.<br />
3.	Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk<br />
	Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.<br />
4.	Gunakan masker setap melakukan tindakan<br />
	Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi<br />
5.	Monitor temperatur<br />
	Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.<br />
6.	Ditekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani<br />
Periode menular dapat terjadi hanya 2 – 3 hari setelah permulaan kemoterapi tetapi dalam keadaan sudah terjadi kavitas atau penyakit sudah berlanjut sampai tiga bulan.</p>
<p>Kolaborasi<br />
7.	Pemberian terapi untuk anak<br />
a.	INH, Etambutol, Rifampisin<br />
INH adalah obat pilihan bagi penyakit TB primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan etambutol untuk 2 bulan pertama.<br />
b.	Pyrazinamid ( PZA ) / aldinamide, Paraamino Salicyl ( PAS ), Sycloserine, Streptomysin<br />
Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.<br />
c.	Monitor sputum BTA<br />
Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu yang ditentukan.</p>
<p>Dx. III.<br />
Independen<br />
1	Kaji kemampuan belajar klien misalnya : tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan yang memungkinkan klien untuk belajar, seberapa banyak yang telah diketahui, media yang tepat dan siapa yang dipercaya.<br />
Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada sebatasmana kemampuan klien.<br />
2	Mengidentifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya : hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan nafas, kehilangan pendengaran, vertigo.<br />
Mengindikasikan perkembangan penyakit atau efek samping dari pengobatan yang membutuhkan evaluasi secepatnya.<br />
3	Menekankan pentingnya asupan diet TKTP dan intake cairan yang adekuat.<br />
Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan yang memadai membantu mengencerkan dahak.<br />
4	Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan untuk klien dan keluarga misalnya : jadwal minum obat.<br />
Informasi tertulis dapat mengingatkan klien tentang informasi yang telah diberikan. Pengulangan informasi dapat membantu mengingatkan klien.<br />
5	Menjelaskan dosis obat, frekwensi, tindakan yang diharapkan dan perlunya therapi dalam jangka waktu lama. Mengulangi penyuluhan mengenai potensial interaksi antara obat yang diminum dengan obat / subtansi lain.<br />
Meningkatkan partisipasi klien dan keluarga untuk mematuhi aturan therapi dan mencegah terjadinya putus obat.<br />
6	Jelaskan tentang efek samping dari pengobatan yang mungkin timbul, misalnya : mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.<br />
Dapat mencegah keraguan terhadap pengobatan dan meningkatkan kemampuan klien untuk menjalani terapi.<br />
7	Merujuk pemeriksaan mata saat memulai dan menjalani therpi etambutol.<br />
Efek samping utama etambutol adalah menurunkan  ketajaman penglihatan dan juga mengurangi kemampuan untuk mempersepsikan warna hijau.<br />
8	Memberikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan  kecemasan/keprihatinannya serta memberikan jawaban yang jujur atas pertayaannya. Jangan berusaha menyangkal pernyataanya.<br />
Memberikan kesempatan untuk mengubah pandangannya yang salah dan meredakan kecemasannya. Penyangkalan terhadap perasaannya akan memperburuk mekanisme koping yang merugikan kesehatannya.<br />
9	Review tentang cara penularan TB ( misalnya : umumnya melalui inhalasi udara yang mengandung kuman, tapi mungkin juga menular melalui urine jika infeksinya mengenai sistem urinaria ) dan resiko kambuh kembali.<br />
Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan / kambuh kembali. Komplikasi yang berhubungan dengan tidak adekuatnya penyembuhan TB meliputi : formasi abses, empisema, pneumothorak, fibrosis, efusi pleura, empyema, bronkhiektasis, hemoptisis, ulcerasi GI, fistula bronkopleural, TB laring, dan penularan kuman.</p>
<p>Dx. IV.<br />
Independen<br />
Kaji dan komunikasikan status nutrisi klien dan keluarga seperti yang dianjurkan :<br />
1.	Catat turgor kulit<br />
2.	Timbang berat badan<br />
3.	Integritas mukosa mulut, kemampuan dan ketidakmampuan menelan, adanya bising usus, riwayat nausea, vomiting atau diare.<br />
Digunakan untuk mendefinisikan tingkat masalah dan intervensi<br />
4	Mengkaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai<br />
Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien.<br />
5	Meonitor intake dan output secara periodik.<br />
Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.<br />
6	Catat adanya anoreksia, nausea, vomiting, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Monitor volume, frekwensi, konsistensi BAB.<br />
Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.<br />
7	Anjurkan bedrest<br />
Membantu menghemat energi khususnya terjadinya metabolik saat demam.<br />
8	Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi<br />
Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang vomiting.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>	Carpenito, Lynda Juall.  2001.  Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8.  EGC.  Jakarta.</p>
<p>Doengoes, ME.  2000.  Rencana Asuhan Keperawatan.  EGC.  Jakarta.</p>
<p>IDAI dan PP IDAI UKK Pulmonologi.  2000.  Tatalaksana Mutakhir Penyakit Respiratorik Pada Anak; Dalam Temu Ahli Respirologi Anak-Anak.  Jakarta.</p>
<p>Nelson.  2000.  Ilmu Kesehatan Anak; Volume 2 Edisi 15.  EGC.  Jakarta.</p>
<p>Ngastiyah.  1997.  Perawatan Anak Sakit.  EGC.  Jakarta.</p>
<p>Soeparman.  1999.  Ilmu Penyakit Dalam; Jilid I.  FKUI.  Jakarta.</p>
<p>Staf Pengajar Ilmu Keperawatan Anak FKUI.  1985.  Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak.  FKUI.  Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=69&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-dengan-tuberkulosis-paru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN MENINGITIS</title>
		<link>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-meningitis/</link>
		<comments>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-meningitis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 10:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurse87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurse87.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[By; Ferdynandus Felix TL., S.Kep., Ners. Defenisi Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis. Patofisiologi Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=66&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By; Ferdynandus Felix TL., S.Kep., Ners.</p>
<p>Defenisi<br />
	Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater). Bakteri dan virus merupakan penyebab utama dari meningitis.</p>
<p>Patofisiologi<br />
	Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak / mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid.<br />
	Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melaui aliran darah di dalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik ke kranial maupun ke saraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus.</p>
<p>Etiologi<br />
	Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Seperti disebutkan diatas bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri, maka meningitis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan meningitis serosa.</p>
<p>Meningitis Bakteri<br />
	Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah haemofilus influenza, Nersseria,Diplokokus pnemonia, Sterptokokus group A, Stapilokokus Aurens, Eschericia colli, Klebsiela dan Pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.</p>
<p>Meningitis Virus<br />
	Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptik meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti; gondok, herpez simplek dan herpez zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.</p>
<p>Pencegahan<br />
	Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan baik faktor presdis posisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti TBC) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling penting adalah pengobatan tuntas (antibiotik) walaupun gejala-gejala infeksi tersebut telah hilang.<br />
Setelah terjadinya meningitis penanganan yang sesuai harus cepat diatasi. Untuk mengidentifikasi faktor atau janis organisme penyebab dan dengan cepat memberikan terapi sesuai dengan organisme penyebab untuk melindungi komplikasi yang serius.</p>
<p>Pengkajian Pasien dengan meningitis<br />
Riwayat penyakit dan pengobatan<br />
	Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Setelah itu yang perlu diketahui adalah status kesehatan masa lalu untuk mengetahui adanya faktor presdiposisi seperti infeksi saluran napas, atau fraktur tulang tengkorak, dll.</p>
<p>Manifestasi Klinik<br />
•	Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.<br />
•	Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor.<br />
•	Sakit kepala<br />
•	Sakit-sakit pada otot-otot<br />
•	Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien<br />
•	Adanya disfungsi pada saraf III, IV, dan VI<br />
•	Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjutan bisa terjadi hemiparese, hemiplegia, dan penurunan tonus otot.<br />
•	Refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+) pada bakterial meningitis dan tidak terdapat pada virus meningitis.<br />
•	Nausea<br />
•	Vomiting<br />
•	Demam<br />
•	Takikardia<br />
•	Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia<br />
•	Pasien merasa takut dan cemas.</p>
<p>Pemeriksaan Laboratorium<br />
	Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak. Lumbal punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan tintra kranial. Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa.<br />
Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah merah yang biasanya meningkat diatas nilai normal.<br />
	Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi.<br />
Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal.</p>
<p>Pemeriksaan Radiografi<br />
	CT-Scan dilakukan untuk menentukan adanya edema cerebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah.</p>
<p>Pengobatan<br />
Pengobatab biasanya diberikan antibiotik yang paling sesuai.<br />
 Untuk setiap mikroorganisme penyebab meningitis :<br />
Antibiotik	Organisme<br />
Penicilin G</p>
<p>Gentamicyn</p>
<p>Chlorampenikol	Pneumoccocci<br />
Meningoccocci<br />
Streptoccocci</p>
<p>Klebsiella<br />
Pseudomonas<br />
Proleus</p>
<p>Haemofilus Influenza	Terapi TBC<br />
•	Streptomicyn<br />
•	INH<br />
•	PAS	Micobacterium Tuber culosis</p>
<p>Diagnosa Keperawatan<br />
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah :</p>
<p>Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial<br />
Tujuan<br />
•	Pasien kembali pada,keadaan status neurologis sebelum sakit<br />
•	Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris</p>
<p>Kriteria hasil<br />
•	Tanda-tanda vital dalam batas normal<br />
•	Rasa sakit kepala berkurang<br />
•	Kesadaran meningkat<br />
•	Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.</p>
<p>Rencana Tindakan<br />
INTERVENSI	RASIONALISASI<br />
Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal	Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak<br />
Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.	Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjt<br />
Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Resoirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik	Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuasi. Kegagalan autoreguler akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diiukuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.<br />
Monitor intake dan output	hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadra, nausea yang menurunkan intake per oral<br />
Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur.	Aktifitas ini dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava<br />
Kolaborasi<br />
Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat.<br />
Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral<br />
Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen	Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral<br />
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika.<br />
Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.<br />
Menurunkan edema serebri<br />
Menurunka metabolik sel / konsumsi dan kejang.</p>
<p>Sakit kepala sehubungan dengan adanya iritasi lapisan otak<br />
Tujuan<br />
Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol</p>
<p>Kriteria evaluasi<br />
•	Pasien dapat tidur dengan tenang<br />
•	Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.</p>
<p>Rencana Tindakan<br />
INTERVENSI	RASIONALISASI<br />
Independent<br />
Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang<br />
Menurukan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat<br />
Kompres dingin (es) pada kepala dan kain dingin pada mata	Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak<br />
Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati	Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit / disconfort<br />
Kolaborasi<br />
Berikan obat analgesik<br />
Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit. Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk dikaji.</p>
<p>Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran<br />
Tujuan:<br />
Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran</p>
<p>Rencana Tindakan<br />
INTERVENSI	RASIONALISASI<br />
Independent<br />
monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya<br />
Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi.<br />
Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien.	Melindungi pasien bila kejang terjadi<br />
Pertahankan bedrest total selama fae akut	Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia terjadi<br />
Kolaborasi<br />
Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll.<br />
Untuk mencegah atau mengurangi kejang.<br />
Catatan : Phenobarbital dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.</p>
<p>DAFTAR KEPUSTAKAAN</p>
<p>•	Donnad, Medical Surgical Nursing, WB Saunders, 1991<br />
•	Kapita Selekta Kedokteran FKUI, Media Aesculapius, 1982<br />
•	Brunner / Suddarth, Medical Surgical Nursing, JB Lippincot Company, Philadelphia, 1984</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurse87.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurse87.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurse87.wordpress.com&amp;blog=7536161&amp;post=66&amp;subd=nurse87&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-meningitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f9eb81c27e5c83284c5ac60f5421a0e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurse87</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
